Peneliti LIPI Ini Sebut Anggota Partai yang tak Taat Harusnya Mundur

"Poin saya adalah bahwa memang konsekwensi logis kita menjadi bagian dari suatu partai politik, ya kita mesti tunduk. Itu sifatnya apa boleh ..."

Laporan Wartawan Tribunnews, Lendy Ramadhan

BANGKAPOS.COM, JAKARTA -- Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris menegaskan, bahwa anggota partai yang tidak tunduk pada kebijakan partai yang sudah diputuskan oleh pimpinan partai, maka ia harus mundur dari partainya.

BACA: Teganya, Gara-gara Sakit Hati, Sang Suami Unggah Video Mesum Istri ke Facebook

Hal tersebut disampaikan kepada para awak media usai menghadiri disuksi publik mengenai kriteria pemimpin yang diinginkan masyarakat DKI Jakarta yang digelar Riset Indonesia, di Kedai Kopi Deli, Jl. PHB Sunda, Jakarta Pusat, Selasa (27/9/2016).

BACA: Mulai Memanas, Ahok dan Anies Mulai Beradu Soal Pendidikan di Jakarta

Mengenakan batik cokelat hitam, ia menjelaskan, bahwa sudah menjadi konsekwensi logis bagi anggota partai untuk mengikuti kebijakan partainya yang telah diputuskan, apabila tidak bisa menerima, maka menurutnya, anggota partai harus mundur.

"Poin saya adalah bahwa memang konsekwensi logis kita menjadi bagian dari suatu partai politik, ya kita mesti tunduk. Itu sifatnya apa boleh buat," katanya.

BACA: Terungkap, Kesaksian Reza Memperkuat Dugaan Pencabulan Gatot Brajamusti

"Tidak bisa tidak, kita mesti tunduk. Nah jika tidak, mesti mundur, jadi kita mesti konsisten," tambahnya.

Pernyataan tersebut menanggapi beberapa isu ketidakpatuhan anggota partai dengan kebijakan partai yang telah diambil, di antaranya politisi Partai Demokrat (PD), Ruhut Sitompul dan mantan politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).

Sebagaimana diketahui, Ruhut Sitompul sebagai kader PD, tidak mendukung kebijakan partainya yang mengusung Agus Yudhoyono dan Sylvi sebagai pasangan calon dari PD yang akan bertarung di Pilkada DKI 2017.

Ruhut malah mendukung petahana, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat yang diusung PDIP, Partai Nasdem, Partai Golkar, dan Partai Hanura. Namun, hingga saat ini Ruhut belum mengundurkan diri dari keanggotaan partainya.

Berbeda dengan Boy Sadikin yang mundur dari partainya (PDIP), ketika ia tidak sepakat dengan kebijakan partainya yang mengusung petahana, Ahok dan Djarot sebagai pasangan calon yang akan bertarung dalam Pilkada DKI 2017. (*)

Penulis: Lendy Ramadhan

Editor: asmadi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved