Waspada, Angka Kematian Akibat Kebanyakan Duduk Ternyata Semakin Tinggi, Ini Dia Penjelasannya

DUDUK lama mungkin tidak dianggap sebagai “penyakit” berbahaya yang secara langsung berdampak pada kesehatan. Namun, dalam jangka panjang...

Waspada, Angka Kematian Akibat Kebanyakan Duduk Ternyata Semakin Tinggi, Ini Dia Penjelasannya
sehatkancantik.blogspot.com
Ilustrasi 

DUDUK lama mungkin tidak dianggap sebagai “penyakit” berbahaya yang secara langsung berdampak pada kesehatan. Namun, dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko kematian dini.

Sebuah studi yang diterbitkan bulan lalu oleh American Journal of Preventive Medicine menemukan bahwa kebiasaan duduk lama, yaitu lebih dari tiga jam per hari, meningkatkan 3,8% risiko kematian dini.

Angka itu setara dengan 433.000 jumlah kematian yang terjadi di seluruh dunia setiap tahun akibat kebiasaan duduk.

Duduk untuk jangka waktu yang lama telah banyak dikaitkan dengan buruknya kesehatan. Tetapi, penelitian terbaru telah memastikan bahwa kebiasaan duduk lama juga dapat menjadi penyebab kematian bagi orang dengan gaya hidup kurang aktif.

Menurut siaran pers, peneliti melihat data yang dikumpulkan dari 54 negara antara 2002 dan 2011. Mereka menemukan bahwa lebih dari 60% dari populasi dunia, duduk lebih dari tiga jam per hari, dengan rata-rata sekitar 4,7 jam perhari.

Jumlah tertinggi kematian akibat duduk lama terjadi di wilayah Pasifik Barat dan sebagian Eropa. Lebanon dan Belanda menempati puncak sebagai negara dengan kematian terbanyak akibat duduk lama, sementara Meksiko dan Myanmar memiliki kematian terkait duduk lama paling sedikit.

Para peneliti menemukan, bahwa mengurangi duduk dapat meningkatkan harapan hidup secara keseluruhan, sementara mengurangi duduk selama dua jam per hari dapat menurunkan angka kematian individu sebesar 2,4%. Bahkan, duduk selama 1 jam atau kurang per hari dapat memiliki dampak sangat positif pada risiko kematian.

“Hal ini penting untuk meminimalkan perilaku kurang aktif demi mencegah kematian dini di seluruh dunia," kata penulis utama studi tersebut.

Penulis : Ayunda Pininta

Editor: asmadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved