Dinas Kesehatan Pastikan Tak Ada Kasus Obat Palsu di Kabupaten Bangka

Ribuan obat palsu yang berasal dari pabrik obat palsu dikhawatirkan beredar di masyarakat termasuk di Kabupaten Bangka

Dinas Kesehatan Pastikan Tak Ada Kasus Obat Palsu di Kabupaten Bangka
Bangkapos.com/Nurhayati
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka dr Then Suyanti 

Laporan Wartawan Bangka Pos Nurhayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA-- Ribuan obat palsu yang berasal dari pabrik obat palsu dikhawatirkan beredar di masyarakat termasuk di Kabupaten Bangka.

Kekhawatiran ini menyusul adanya pengerebekan yang dilakukan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Republik Indonesia bersama Mabes Polri di gudang obat palsu di Tangerang, Jumat (2/9/2016) lalu.

Dalam penggerebekan itu, petugas berhasil mengamankan ribuan butir obat jenis pil yang siap diedarkan ke seluruh Indonesia.

Namun khawatiran adanya peredaran obat palsu tersebut ditepis Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka dr Then Suyanti.

Menurutnya sejauh ini belum ada pemberitahuan resmi dari pihak BPOM mengenai indikasi obat palsu maupun kadaluarsa yang beredar di masyarakat di Kabupaten Bangka.

"Itu di Jakarta kan. Kalau disini belum ada biasanya BPOM yang tahu nomor batch di kotak obatnya. Kami dak punya daftar seluruh obat," kata Then saat dikonfirmasi bangkapos.com terkait dengan peredaran obat palsu, Kamis (29/9/2016) di Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka.

Untuk pemeriksaan obat-obatan yang beredar di Kabupaten Bangka menurutnya, BPOM biasanya rutin melakukan pemeriksaan ke apotik-apotik.

"Kalau untuk sementara dakde. Kalau vaksin palsu yang kemarin juga dak ada karena yang tahu Balai POM. Mereka biasa turun, bisa bareng kami dan juga langsung sendiri untuk memeriksa obat dan makanan," ungkap Then.

Biasanya menurutnya peredaran obat palsu maupun kadaluarsa ini lewat jalur distributor obat yang tidak resmi.

Untuk itu pihak BPOM melakukan pengecekan melalui faktur pembelian obat di apotik-apotik untuk memastikan bisa dibuktikan lewat distributor resmi.

"Di Jalan Pramuka Jakarta itukan banyak apotik rakyat atau toko obat, itu biasanya bon biasa, kalau melalui distributor resmi itu jelas ada no batchnya di kotaknya, mengenai kadaluarsa, produksinya. Di kotaknya itu ada no batch, ada no faktur pembelian. Balai POM buka fakturnya kalau tidak ada itu yang perlu dicurigai," jelas Then.

Dikatakannya peredaran obat di Kabupaten Bangka tidak terlalu banyak sehingga lebih mudah dipantau oleh BPOM, berbeda dengan di daerah Jawa.

Penulis: nurhayati
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved