Nilai Tukar Petani di Kabupaten Bangka Tahun 2015 Cenderung Meningkat

Kenaikan indeks yang diterima petani tahun ini mendongkrat Nilai Tukar Petani (NTP) karena kenaikan harga produk pertanian

bangkapos.com/Nurhayati
Sosialisasi Analisis Nilai Tukar Petani Kabupaten Bangka, Jumat (30/9/2016) di Ruang Rapat Bina Praja Kantor Bupati Bangka. 

Laporan Wartawan Bangka Pos Nurhayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) Kabupaten Bangka untuk subsektor tanaman pangan, holtikultura, perkebunan rakyat dan peternakan di Tahun 2015 berfluktuatif dan cenderung meningkat, kecuali subsektor tanaman pangan.

Indeks yang diterima petani tahun ini sebagian besar mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2014, dengan peningkatan IT (indeks harga barang yang diterima petani) tertinggi terjadi pada subsektor tanaman holtikultura sebesar 8,52 persen dan peningkatan IT terendah pada subsektor tanaman pangan sebesar 0,99 persen.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Bangka Ahmad Thamrin saat Sosialisasi Analisis Nilai Tukar Petani Kabupaten Bangka, Jumat (30/9/2016) di Ruang Rapat Bina Praja Kantor Bupati Bangka.

"Kenaikan indeks yang diterima petani tahun ini mendongkrat Nilai Tukar Petani (NTP) karena kenaikan harga produk pertanian yang dihasilkan oleh petani jauh lebih tinggi dibandingkan harga barang/jasa yang dikonsumsi petani untuk keperluan sehari-hari maupun biaya produksi," jelas Ahmad Thamrin.

Namun ia menilai sebagian besar petani subsektor tanaman pangan di Kabupaten Bangka melakukan usaha pertaniannya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi tanaman pangannya sendiri, bukan sebagai usaha komersil untuk memperoleh penghasilan. "Oleh karena itu nilai NTP subsektor tanaman pangan tahun 2015 turun sebesar 5,70 persen jika dibandingkan tahun 2014," ungkap Ahmad Thamrin.

Sedangkan petani pada subsektor holtikultura, subsektor perkebunan, subsektor peternakan justru mengalami peningkatan nilai tukar jika dibandingkan tahun 2014 karena kenaikan harga produk pertanian yang dihasilkan oleh petani tahun 2015 tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan harga barang/jasa yang dikonsumsi untuk keperluan sehari-hari maupun biaya produksi.

Penulis: nurhayati
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved