Singapura Akhirnya 'Berhasil' Geser Hongkong Jadi Kota Termahal Kedua di Asia

Shanghai masih menempati posisi teratas kota termahal di dunia sejak tahun 2015 lalu. Meskipun harga satu mobil BMW relatif lebih murah di kota itu...

Singapura Akhirnya 'Berhasil' Geser Hongkong Jadi Kota Termahal Kedua di Asia
KOMPAS.COM/NICKY AULIA WIDADIO
Merlion, Singapura. 

BANGKAPOS.COM, SINGAPURA -- Laporan terbaru yang dirilis private bank asal Swiss, Julius Baer, menunjukkan, Singapura kini menjadi kota termahal kedua di Asia.

Dengan demikian, Singapura menggeser Hongkong yang selama ini menyandang status tersebut.

"Singapura telah menggeser Hongkong sebagai kota termahal kedua di Asia," tulis Julius Baer dalam laporannya seperti dikutip dari The Straits Times, Rabu (5/10/2016).

Shanghai masih menempati posisi teratas kota termahal di dunia sejak tahun 2015 lalu. Meskipun harga satu mobil BMW relatif lebih murah di kota itu dibandingkan kota lainnya, harga yang mahal ditemukan pada tarif inap rumah sakit, harga jam tangan, perawatan Botox, cerutu, dan krim kecantikan mewah.

Temuan ini merupakan bagian dari indeks gaya hidup yang disusun Julius Baer. Indeks tersebut mengungkap biaya hidup mewah berdasarkan 20 barang dan jasa di 11 kota di Asia.

Data tersebut dikumpulkan sejak bulan Juni 2015 hingga bulan Juni 2016 lalu. Namun, dalam hal rumah mewah, harganya cenderung lebih murah di Singapura dengan penurunan mencapai 26,4 persen dibandingkan tahun lalu.

Julius Baer menyatakan, harga properti di Singapura cenderung masih terjangkau. Julius Baer pun meyakini, dalam jangka menengah, reputasi Singapura dalam hal kualitas layanan kesehatan dan sebagai kota layak huni serta kota bisnis akan terus memikat pembeli rumah dari kalangan asing.

Harga krim perawatan kulit pun turut disoroti Julius Baer dalam penyusunan indeks tahun ini. Menurut Julius Baer, Asia menyumbang 36 persen pasar kecantikan global dan akan tumbuh 4,5 persen setiap tahun sampai 2019, jauh lebih cepat ketimbang pasar global.

"Indeks gaya hidup tahun ini menunjukkan masih ada permintaan yang luar biasa atas barang mewah dan jasa di Asia, tetapi secara bersamaan memberi sinyal bahwa fluktuasi harga aset dapat menjadi potensi penurunan belanja," ujar CEO Julius Baer Group, Boris Collardi. (*/straitstimes.com,)

Penulis : Sakina Rakhma Diah Setiawan

Editor: asmadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved