Mantan Bupati Basel Divonis 1 Tahun Penjara, Terbukti Korupsi Alkes RSUD

Usai divonis oleh majelis hakim, H Jamro terlihat bergegas meninggalkan ruang sidang Garuda

Mantan Bupati Basel Divonis 1 Tahun Penjara, Terbukti Korupsi Alkes RSUD
Bangkapos.com/Hendra
H Jamro

Laporan wartawan Bangkapos Ryan A Prakasa

BANGKAPOS.COM,BANGKA-- Ketukan palu majelis hakim Pengadilan Negeri (Tipikor) Pangkalpinang, Selasa (12/10/2016) siang akhirnya menjatuhkan vonis hukuman 1 (satu) tahun kurungan penjara terhadap mantan Bupati Bangka Selatan (Basel), H Jamro H Jalil.

Vonis yang dijatuhkan oleh majelis hakim itu lebih ringan dibanding tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) menuntut terdakwa (H Jamro H Jalil) yakni hukuman 18 bulan penjara.

Jamro divonis oleh majelis hakim pengadilan setempat diketuai oleh Setyanto Hermawan SH MHUm selaku ketua majelis hakim tanpa disaksikan oleh sang istri tercintanya, namun saat sidang putusan itu justru dihadiri oleh keluarganya saja.

Usai divonis oleh majelis hakim, H Jamro terlihat bergegas meninggalkan ruang sidang Garuda, dan ia pun sesaat itu pula langsung pergi keluar gedung dikawal ketat oleh petugas kejaksaan dan terpidana itu langsung masuk ke dalam mobil operasional kejaksaan guna dibawa ke lembaga pemasyarakatan (Lapas) Tuatunu Kota Pangkalpinang.

Sekedar diketahui, mantan bupati Basel ini (H Jamro H Jalil) kini harus menjalani masa hukuman yang dijatuhkan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (Tipikor) Pangkalpinang.

Jamro terbukti bersalah dan melanggar hukum akibat kegiatan proyek pengadaan peralatan kesehatan (alkes) di RSUD Toboali, Basel atau telah melakukan tindak gratifikasi yakni menerima uang sejumlah Rp 600 juta dari Dr Franseda (mantan direktur RSUD Bael).

Selain proyek tahun anggaran 2013 bernilai Rp 12 miliar lebih bersumber dari APBD namun terbukti proyek itu merugikan keuangan negara mencapai angka Rp 2,5 miliar.

Terkait perkara kasus itu pula, sebelumnya pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Basel sebelumnya sempat pula menetapkan 2 orang tersangka lainnya, Dr Franseda dan Yudistira (kontraktor).

Kini keduanya, dr Franseda dan Yudistira telah berstatus terpidana setelah majelis hakim pengadilan setempat menjatuhkan vonis hukuman kurungan penjara 3,5 tahun terhadap Franseda.

Sedangkan Yudistira telah divonis 3 tahun penjara karena keterlibatannya sebagai kontraktor dalam kegiatan proyek tersebut dan kini keduanya masih menjalani masa hukuman di Lapas Tuatunu Kota Pangkalpinang. (rap)

Penulis: ryan augusta
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved