Kebakaran Lahan Gambut di Meranti Riau Mencapai 50 Hektare

Kebakaran lahan gambut di Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti Riau yang terjadi dalam lima hari terakhir terus meluas

Kebakaran Lahan Gambut di Meranti Riau Mencapai 50 Hektare
bangkapos.com/dok
Ilustrasi: Asap tebal kebarakan lahan gambut 

BANGKAPOS.COM, SELAT PANJANG - Kebakaran lahan gambut di Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau yang terjadi dalam lima hari terakhir, terus meluas mencapai lebih dari 50 hektare.

Rangsang Pesisir merupakan sebuah kecamatan yang berada di Pulau Rangsang dan merupakan Pulau terluar di Riau serta berbatasan langsung dengan Selat Malaka.

"Saat ini tiga desa di Kecamatan Rangsang dalam kondisi terbakar. Tim satgas penanggulangan Karhutla baik darat maupun udara masih terus berjibaku melakukan pemadaman," kata Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Riau Jim Gafur di Pekanbaru, Sabtu (15/10). Daerah itu telah terbakar sejak Selasa (11/10) lalu, dan hingga kini terpantau terus meluas.

Sebelumnya, kebakaran terjadi di dua Desa yakni Telesung dan Tanjung Kedabu. Namun pada hari ini, dia mengatakan, titik api menyebar ke desa terdekat yakni Desa Bungur.

Dia mengatakan, saat ini, 25 personel gabungan BPBD, TNI, Polri dan masyarakat masih terus berupaya melakukan pemadaman. Namun, cuaca kering disertai angin kencang membuat api sulit dikendalikan.

Selain tim darat, penanggulangan juga dilakukan melalui udara dengan operasi pengeboman air atau waterbombing. Dua helikopter jenis Sikorsky dan MI-8 hingga sore ini silih berganti melakukan pemadaman di wilayah tersebut.

Hanya saja, dia mengatakan, bahwa operasi pengeboman air dinilai kurang efektif karena jarak antara Posko udara di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru ke lokasi kebakaran.

"Jaraknya sangat jauh dari Pekanbaru ke titik api, 190 kilometer. Jadinya heli tidak dapat melakukan operasi pengeboman air secara maksimal," urainya.

Dua helikopter yang disiagakan di Riau juga dinilai sangat kurang setelah sejumlah helikopter ditarik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) beberapa waktu lalu.

Kepala BPBD Kepulauan Meranti Muhammad Edy Afrizal mengatakan, meski sebagian besar wilayah Provinsi Riau di daratan Pulau Sumatera diguyur hujan dalam tiga hari terakhir, tapi hal itu tidak terjadi di Pesisir Riau, terutama Meranti. Kata dia, saat ini, cuaca di Meranti cukup panas dengan angin kencang, dengan hari tanpa hujan mencapai lebih dari satu bulan. Hal tersebut menyebabkan gambut di wilayah Meranti yang terdiri dari kepulauan di Timur Riau menjadi kering dan sangat mudah terbakar.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan lima titik panas muncul di Provinsi Riau pada Sabtu (15/10), setelah pada pagi hari satelit tidak menemukan alias nihil.

"Sore ini (kemarin. red), satelit temukan lima titik panas di Sumatera. Lima titik tersebut terkonsentrasi di Riau," ucap Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Stasiun Pekanbaru Slamet Riyadi.

Dia mengaku, padahal pukul 7.00 WIB atau pagi tadi, satelit milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) baik Terra dan Aqua tidak menemukan titik panas di wilayah Sumatera. Lima titik panas di Riau tersebut memiliki level of confident atau tingkat kepercayaan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di atas 50 persen dengan tersebar pada lima kabupaten.

Yakni Pelalawan, lalu Kepulauan Meranti, Siak, Rokan Hilir dan Indragiri Hulu. Tapi total dari lima titik panas, katanya, terdapat dua titik diantaranya sebagai titik api atau potensi terbakar.

"Sebab, miliki 'level of confident' lebih dari 70 persen. Seperti di Kecamatan Rangsang, Meranti dengan 99 persen dan di Kecamatan Kandis, Siak dengan 87 persen," terang Slamet. (ant)

Editor: edwardi
Sumber: babel news
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved