Pelaku Investasi Bodong Rp 43 Miliar Ditangkap

Tertangkapnya tersangka setelah polisi melacak keberadaannya usai melakukan penarik uang tunai di salah satu ATM di Bali.

Pelaku Investasi Bodong Rp 43 Miliar Ditangkap
KOMPAS.com/Yohanes Kurnia Irawan
Kapolda Kalbar Irjen (Pol) Musyafak menunjukkan barang bukti yang diamankan dari tangan tersangka pelaku penipuan investasi bodong di Mapolda Kalbar (1/11/2016). 

BANGKAPOS.COM, PONTIANAK - Mahhut, pelaku penipuan dengan modus investasi bodong dengan nama "Save Our Trade" (SOT) berhasil diringkus anggota Polres Mempawah, Kalimantan Barat.

Tersangka telah merugikan nasabahnya hingga Rp 43 miliar.

Tertangkapnya tersangka setelah polisi melacak keberadaannya usai melakukan penarik uang tunai di salah satu ATM di Bali.

Berdasarkan informasi tersebut, Polda Kalbar kemudian berkoordinasi dengan Polda Bali dan mengintai tersangka pada 25 Oktober 2016.

Setelah diketahuinya keberadaan, Ditreskrimsus Polda Kalbar bersama Penyidik Polres Mempawah berkoordinasi dengan Tim Jatanras Ditreskrimum Polda Bali, kemudian menangkap tersangka pada 26 Oktober 2016 sekitar pukul 14.30 WIT saat berada di depan Nand Mart Bali.

Usai menangkap tersangka, polisi kemudian langsung melakukan penggeledahan di rumah istri tersangka di Jalan Tukad Batang Hari XII No. 8 Diva Lestari Guess House, dan berhasil menemukan berbagai barang bukti.

Barang bukti yang diamankan di antaranya uang tunai sebesar Rp 474 juta, berbagai peralatan pendukung untuk kegiatan investasi bodong, seperti laptop, lima buah handphone, satu kamera merek Cannon, enam buku tabungan bank berbagai nama, termasuk atas nama istri tersangka Sri Maryatun, lima buah kartu ATM, senjata laras pendek airsoft gun, dan berbagai slip penarikan ATM di berbagai bank dan lain-lain.

Aksi penipuan berkedok investasi itu pun mulai dilakukan tersangka sejak Januari 2015.

Investasi bodong tersebut terungkap setelah ada korban yang melapor di Polres Mempawah, lantaran terjadi kemacetan pembayaran keuntungan sejak Maret 2016.

Kapolda Kalbar, Inspektur Jenderal Polisi Musyafak mengatakan, sejak terjadi kemacetan pembayaran tersebut, tersangka kemudian melarikan diri.

Halaman
12
Editor: fitriadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved