Sekelumit Kisah Tony Wen, Pejuang Kemerdekaan Keturunan Tionghoa Asal Pulau Bangka

Bagi warga kota Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tentu mengenal jalan Tony Wen, namun sedikit sekali yang mengenai siapa

TWITTER/GNFI
Pertempuran Surabaya, 10 November 1945. 

Tony Wen meninggal dunia karena sakit pada 30 Mei 1963 dan dimakamkan di Menteng Pulo, Jakarta. Banyak sekali sanak saudara dan teman seperjuangan datang memberi penghormatan terakhir.

Pejuang Tionghoa di 10 November

 Tak hanya pribumi, pertempuran 10 November 1945 di Surabaya juga melibatkan orang-orang Tionghoa. Selain mengabarkan melalui radio komunitasnya menggunakan bahasa Inggris, mereka warga etnis Tionghoa di Surabaya juga turun di medan laga dalam wadah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Chungking.

Bersama laskar-laskar lainnya seperti Hizbullah, Tentara Keamanan Rakjat, Sabilillah, dan Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia pimpinan Bung Tomo, TKR Chungking bahu membawa mengusir NICA dari tlatah Surabaya.

Dalam buku Tionghoa Dalam Sejarah Kemiliteran: Sejak Nusantara sampai Indonesiayang ditulis Iwan Sentosa, dalam pertempuran terbesar pasca-proklamasi ini, TKR Chungking membawa bendera Kuo Ming sebagai identitasnya.

Berbeda dengan laskar-laskar yang lain, TKR Chungking sudah menggunakan Fritz Helmet yang digunakan pasukan Jerman, lengkap dengan senapan Karaben (Kar) 98-K yang didapatkan dari Nazi Jerman pada 1930-an.

Pada hakikatnya, kemerdakaan yang diproklamirkan oleh Sukarno dan Hatta di Menteng, Jakarta Pusat, tak hanya dinantikan oleh Pribumi, tapi juga oleh warga Tionghoa.

Bagaimanapun juga, mereka mengalami masa-masa sulit selama masa kolonialisasi. Nah, ketika Indonesia coba direbut kembali oleh Belanda—melalui NICA—orang-orang Tionghoa tidak mau tinggal diam. Mereka memilih berjuang bersama, salah satunya dengan membantu TKR Chungking.

TKR Chungking bukan laskar yang sembarangan. Masih dalam buku yang sama disebutkan bahwa laskar ini sukses membuat tentara NICA kesulitan—terlebih karena laskar ini memiliki senjata yang mumpuni juga kemampuan perang yang di atas rata-rata laskar-laskar lainnya.

Selain tergabung dalam front-front depan, TKR Chungking yang dipimpin oleh Tse An Hui, juga terlibat dalam memberi bantuan medis. Ini masih diperdebatkan, tapi beberapa sumber mengatakan bahwa mereka juga menginisiasi berdirinya beberapa posko pengobatan.

Halaman
1234
Editor: Iwan Satriawan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved