Ribuan Warga AS Anti-Trump Berencana Kembali Gelar Unjuk Rasa

Ribuan warga AS yang masih belum puas dengan kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden berencana akan kembali turun ke jalan untuk hari...

Ribuan Warga AS Anti-Trump Berencana Kembali Gelar Unjuk Rasa
SPENCER PLATT / GETTY IMAGES NORTH AMERICA / AFP
Sebagian warga AS yang tak menerima kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden berkumpul di sebuah taman di New York. 

BANGKAPOS.COM, WASHINGTON DC -- Ribuan warga AS yang masih belum puas dengan kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden berencana akan kembali turun ke jalan untuk hari kedua.

Baca: Rakyat California Ingin Jadi Negara Sendiri Lepas dari Amerika karena Kecewa Trump Menang

Serangkaian unjuk rasa dari New York hingga Los Angeles ini dihiasi slogan yang sama yaitu menuduh Trump sebagai rasialis, seksis, dan xenofobia. Mereka menutup jalanan sambil berteriak "Bukan presiden saya" dan "kami menolak presiden terpilih".

Baca: Trump Menang, Merebak Kasus Mahasiswi Muslim Alami Kekerasan

Unjuk rasa terburuk terjadi di kota Portland, negara bagian Oregon di mana para demonstran melempari polisi, merusak berbagai tempat usaha, menghancurkan kaca mobil, dan menyerang pengguna jalan raya.

Polisi kemudian memutuskan untuk menangani para pengunjuk rasa sebagai perusuh karena perilaku yang berbahaya dan perbuatan kriminal yang mereka lakukan.

Baca: Asyiknya, Melania Trump dan Michelle Obama Minum Teh Bersama

Terkait sederet aksi unjuk rasa yang diwarnai kekerasan itu, Donald Trump menuding media sebagai pemicu kerusuhan.

"Baru saya melalui sebuah pemilihan presiden yang sangat terbuka dan sukses. Kini para demonstran profesional, dipicu media, melakukan protes. Sangat tidak adil!" kata Trump lewat akun Twitter-nya.

Baca: CEO Amazon Ini Tiba-tiba Banting Setir Setelah Trump Presiden

Namun, beberapa jam setelah komentar keras itu, Trump kembali mengunggah pernyataan dan kali ini jauh lebih lembut.

"Menyukai fakta bahwa sebagian kecil kelompok pengunjuk rasa semalam memiliki kecintaan terhadap negara ini. Kita semua akan menjadi satu dan membanggakan," ujar Trump.

Baca: Bikin Gregetan Sekaligus Kagum, Inilah Aksi Unik Emma Watson di Stasiun Bawah Tanah

Kekerasan di jalanan itu sangat kontras dengan pertemuan hangat antara Donald Trump dan Presiden Barack Obama di Gedung Putih pada Kamis (10/11/2016) siang.

Pertemuan itu dirancang untuk menyembuhkan luka dan perbedaan yang menghinggapi rakyat AS dalam salah satu pemilihan presiden paling keras dalam sejarah AS.

Dalam pertemuan selama 90 menit itu, Trump dan Obama menyingkirkan semua perbedaan demi menghapus ketakutan akan rusaknya sistem demokrasi negeri itu.

Baca: Apresiasi Jokowi Bersafari ke TNI-Polri, tapi Fadli Zon Bilang: Rakyat Jangan Ditakut-takuti

"Sangat penting bagi kita semua, apapun partai dan latar belakang politik kita, untuk bersatu, bekerja sama, menghadapi banyak tantangan di masa depan," kata Obama.

Sementara itu, Trump terlihat jauh lebih tenang dan sopan dibanding biasanya serta menimpali pernyataan Obama dengan kalimat yang menenangkan.

"Bapak Presiden, sebuah kehormatan besar saya bisa duduk bersama Anda," ujar Trump. (*/AFP,)

Editor: asmadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved