Ankara Akhirnya Bebaskan Wartawan Perancis Setelah Hal Ini Terjadi

Wartawan Perancis, Olivier Bertrand, telah dibebaskan Ankara menyusul penangkapannya di Turki yang telah memicu kecaman dari Paris, seperti ...

Ankara Akhirnya Bebaskan Wartawan Perancis Setelah Hal Ini Terjadi
Google
Gaziantep, kota di Turki selatan yang berbatasan dengan Suriah. 

BANGKAPOS.COM, PARIS -- Wartawan Perancis, Olivier Bertrand, telah dibebaskan Ankara menyusul penangkapannya di Turki yang telah memicu kecaman dari Paris, seperti diberitakan Reuters, Senin (14/11/2016).

Baca: Pemasangan Spanduk Tangkap Ahok di Tanah Abang Ternyata Izin H Lulung

Pemilik situs berita daring, lesjours.fr, Minggu (13/11/2016) , menyebutkan, karyawannya Bertrand ditahan pada Jumat lalu saat melakukan liputan di Gaziantep, kota Turki selatan yang berbatasan dengan Suriah.

Baca: Hasil Survei, Empat Kasus Ini Buat Elektabilitas Ahok Merosot, Begini Penjelasannya

"Wartawan kami Olivier Bertrand bebas, ia berada dalam pesawat dalam perjalanan pulang ke Paris," kata media Perancis tersebut di akun Twitter resminya.

Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Marc Ayrault, Minggu, telah menuntut Ankara agar membebaskan Bertrand.

Baca: Kapolri Sebut Ahok Akan Hadirkan Ahli Tafsir dari Mesir pada Gelar Perkara

Pemerintah Turki telah menindak media menyusul kudeta yang gagal awal tahun ini.

Pihak berwenang di Ankara telah menahan puluhan ribu orang atas tuduhan keterkaitan dengan Fethullah Gulen, ulama Turki yang menetap di Pennsylvania, Amerika Serikat.

Gulen dituduh telah menjadi dalang upaya kudeta pada 15 Juli yang menewaskan lebih dari 290 orang. Ulama tersebut telah berulangkali menyangkal tudingan dari pemerintah Turki.

Pejabat Uni Eropa bertanggung jawab atas hubungan dengan Ankara mengatakan awal bulan ini bahwa usaha Turki untuk bergabung dengan blok itu mungkin akan gagal.

Kecuali jika negara itu menghentikan tindakan keras terhadap hak-hak sipil, kebebasan pers, dan peradilan.

Pemerintah Perancis telah menyatakan "keprihatinan yang serius" bulan ini sehubungan dengan penangkapan oleh aparat Turki terhadap anggota parlemen Kurdi.

Sementara Ayrault menyuarakan keprihatinan pada hari Minggu atas tanda-tanda bahwa Turki bisa menegakkan kembali hukuman mati.

Hal tesebut oleh Perdana Menteri Binali Yildirim sebut sebagai suatu kemungkinan.

Turki sebenarnya telah menghapus hukuman mati pada tahun 2002 sebagai bagian dari proses aksesi Uni Eropa, meskipun belum ada eksekusi sejak tahun 1984.

Editor: asmadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved