Kisah Sang Kakek 68 Tahun yang Berkeliling Kampung Jadi Tukang Payung

Waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB saat Sukrisno tiba di Jalan Gajah Mada. Kakek berusia 68 tahun itu lantas menepi dan memperbaiki sejumlah...

Kisah Sang Kakek 68 Tahun yang Berkeliling Kampung Jadi Tukang Payung
Kontributor Malang, Andi Hartik
Sukrisno, kakek 68 tahun yang menjadi tukang payung saat memperbaiki payung di Jalan GajahMada, Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (18/11/2016) 

BANGKAPOS.COM, MALANG -- Waktu menunjukkan pukul 11.00 WIB saat Sukrisno tiba di Jalan Gajah Mada, Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (18/11/2016).

Baca: Begini Jawaban Megawati ke Wartawan Terkait Kasus Ahok yang Bikin Ngakak, Ini Videonya

Kakek berusia 68 tahun itu lantas menepi dan memperbaiki sejumlah payung milik warga setempat.

Sukrisno merupakan warga Kelurahan Jodipan gang I nomor 22, RT 14 RW 07, Kecamatan Blimbing, Kota Malang. Ia menjadi tukang memperbaiki payung keliling sejak di-PHK di PT Bentoel Internasional Investama Tbk, tempatnya bekerja pada tahun 1995.

Baca: Arkeolog Spanyol Temukan Mumi Berusia 3.000 Tahun yang Masih Utuh

Sejak saat itu, Sukrisno yang memiliki lima anak berusaha untuk mendapatkan penghasilan lain. Ia lalu berinisiatif menjadi tukang memperbaiki payung keliling.

"Setahun sempat menganggur. Lalu mengerjakan ini," katanya sambil menunjuk payung yang sedang diperbaiki.

Baca: Aldwin Sebut Dua Pendukung Ahok Ini Berpotensi Jadi Tersangka

Biasanya, Sukrisno keluar rumah pada pukul 9.00 WIB. Kemudian ia bekeliling mengitari perkampungan yang ada di Kota Malang melalui sepeda onthel yang dibelinya waktu jadi karyawan Bentoel. Jika tidak ada hujan, ia mengakhiri perjalanannya sekitar pukul 17.00 WIB.

Baca: Netizen Berdoa dan Ambil Hikmah dari Kondisi Jupe, Inilah Video Tubuh Kurus dan Suara Beratnya

Di atas sepeda onthel itu, ia membawa dua buah tas yang di dalamnya berisi alat-alat untuk memperbaiki payung. Seperti stang, jepit, obeng, uncek untuk melubangi payung dan gergaji besi.

Selain itu, ia juga membawa onderdil payung bekas. Hal itu sebagai persiapan jika ada payung rusak dan ada bagian yang perlu diganti.

Tidak ada suara dari mulut Sukrisno saat mengitari perkampungan. Jika ada orang yang ingin memperbaiki payung, ia lantas dipanggil.

Sehari, ia bisa memperbaiki 15 payung. Namun jika sedang sepi, sehari bisa tidak dapat orderan meski sudah berkeliling jauh.

Halaman
12
Editor: asmadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved