Pilgub Babel Dihadapkan Pada Sandiwara Demokrasi

Target 75 persen partisipasi pemilih pada Pilgub Babel 2017 mendatang, menjadi sorotan banyak pihak di Bangka Belitung

BANGKA, BANGKAPOS.COM -- Target 75 persen partisipasi pemilih pada Pilgub Babel 2017 mendatang, menjadi sorotan banyak pihak di Bangka Belitung. Sebagian warga justru pesimis target KPUD Babel tersebut akan sulit terealisasi.

Persoalan target partisipasi pemilih ini menjadi topik yand diangkat pada acara Community Talkshow, yang digelar Yayasan Bangka Belitung Kreatif, di Terash Cafe Sungailiat, Jumat (18/11/2016) lalu. Acara ini juga didukung Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Bangka.

Direktur Eksekutif Bangka Belitung Kreatif (BBK), Fauzan Azima menyebutkan bahwa demokrasi kita saat ini bagaikan menonton rolling coaster. Masyarakat (pemilih) hanya dipaksa menyaksikan putaran roda besar demokrasi dan pergantian para elit.

"Pemilukadapun demikian. Sebenarnya partisipasi pemilih (masyarakat politik) yang diharapkan absurd dan akan selalu terjebak dengan capaian angka-angka keikutsertaan warga untuk mencoblos. Disisi lain, kesadaran politik warga untuk menjadi subjek (partisipasi rasional) dalam demokrasi pemilukada tidak pernah tersentuh," ujarnya.

Fenomena ini Hal diakui Siti Aminah yang hadir mewakili Komisioner KPUD Kabupaten Bangka. Menurut siti, penyelenggara sendiri faktanya sangat terbatas kewenangan dan jangkauannya atas kondisi ini.

Untuk mencapai target partisipasi warga Bangka saja saat ini harus menerima kenyataan bahwa ada 19.000 calon pemilih yang belum memiliki KTP elektornik sebagai prasyarat bisa memilih pada Pilgub 15 Februari 2017 mendatang.

"Kondisi ini seakan menjadi beban pihak penyelenggara. Kami berharap kalangan komunitas di Bangka harus tetap kritis dan sedapat mungkin mampu menguji visi misi calon gubernur/wakil gubernur yang ada," tukas Siti.

Selain menghadirkan beberapa narasumber yang membedah situasi politik di Babel, talkshow kreatif kali ini juga dihibur tayangan film dokumenter “Sandiwara Demokrasi”, performance komunitas musik, pembacaan puisi, dan komedian stand up (muneer and black).

Selain mengapresiasi terobosan yang dilakukan BBK, pemusik Wantek yang mewakili para komunitas juga berharap pihak KPUD lebih memahami kondisi psikologis masyarakat, khususnya kalangan pemuda dan komunitas.

“Panggung politik para elit sudah terlalu jauh dari nafas adil bersama dan bertanggungjawab. Kaum muda nyatanya sudah semakin acuh dan sinis. Bahkan pemilukada Babel kali inipun nyaris dianggap angin lalu. Parahnya para penyelenggara pemilukadapun ikut larut dengan pola programnya yang normatif dan elitis," ujar Wantek.

Penulis: Dody
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved