Breaking News:

Kapolri Beberkan Operasi Anti-Makar Menjelang Fajar

Penangkapan itu dilakukan menjelang fajar sehingga tidak ada kesempatan untuk membentuk opini melalui media sosial.

Editor: fitriadi
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian mengikuti Rapat Kerja dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (5/12/2016). Rapat tersebut membahas beberapa isu terkini, di antaranya kesiapan Polri dalam pengamanan Pilkada 2017. 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian membeberkan strategi penangkapan sejumlah tokoh yang diduga hendak melakukan makar pada 2 Desember lalu.

Penangkapan itu dilakukan menjelang fajar sehingga tidak ada kesempatan untuk membentuk opini melalui media sosial.

Meski memiliki alasan yang cukup untuk menangkap para tokoh yang diduga hendak makar, Polri tidak melakukannya tiga hari, dua hari, ataupun sehari sebelum 2 Desember.

Baca: Kapolri Bingung Jutaan Peserta Aksi Super Damai 212 Hilang Bagai Ditelan Bumi

Penangkapan lebih dari 24 jam sebelum 2 Desember, memberi kesempatan kepada beberapa pihak untuk membuat dan membesarkan opini yang menyesatkan.

"Kami melakukan penangkapan tidak sehari, dua hari, atau tiga hari sebelumnya, karena itu akan dipelintir di media sosial. Bapak-bapak paham betul kekuatan media sosial saat ini," tutur Tito di hadapan anggota DPR dalam rapat kerja DPR dan Polri di Gedung DPR, Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Senin (5/12).

Baca: Empat Pengedara Tewas di Tempat dalam Kecelakaan Maut di Tikungan Petaling

Tito mengatakan, penangkapan sejumlah tokoh menjelang aksi 212 adalah menjaga kesucian aksi tersebut. Polri, menurut Tito, tidak ingin agenda Aksi 212 yakni menjalankan ibadah bersama, justru ternodai oleh aksi yang tidak terpuji.

"Kami tidak ingin agenda suci untuk melakukan ibadah ternyata diselipi provokasi. Makanya kita setting penangkapan subuh," katanya.

Polri telah mendapat informasi bahwa ada kelompok yang berupaya menggiring massa Aksi 212 untuk bergerak ke gedung DPR dan mendesak diadakannya Sidang Istimewa.

Baca: Kumandang Azan saat Aksi Super Damai 212 Menggetarkan

azan

Tito mengatakan, Polri tidak melarang pengunjuk rasa berdemonstrasi di Gedung DPR. Namun Polri wajib mencegah penunjuk rasa yang hendak menduduki Gedung DPR.

"Kalau demo di depan (gedung) DPR silakan, tapi kalau memaksa menduduki Gedung DPR itu inkonstitusional," katanya.

Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved