Breaking News:

Kapolri Sebut ISIS Lebih Kuat ketimbang Al Qaeda

Mereka menganggap kelompok yang dibentuk Abubakar ini sebagai "mainan baru". Berbeda dengan Al Qaeda, ISIS menganut ajaran ideologi yang berbeda...

Kompas.com / Dani Prabowo
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian saat Seminar Nasional Preventive Justice dalam Antisipasi Perkembangan Ancaman Terorisme di Jakarta, Selasa (6/12/2016). 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA -- Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menilai, kekuatan yang dimiliki Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) lebih besar dibandingkan Al Qaeda.

Baca: Nekat, Pria Ini Tinju Kangguru Demi Hewan Ini

Hal itu tidak terlepas dari sosok yang mengendalikan ISIS.

"Al Qaeda secara militer, amatiran. ISIS memang dia diawaki oleh pasukan-pasukan yang berlatar belakang militer dulunya," kata Kapolri saat Seminar Nasional bertema "Preventive Justice dalam Antisipasi Perkembangan Ancaman Terorisme" di Jakarta, Selasa (6/12/2016).

Baca: Gara-gara Dibajak, Facebook Anggota One Direction Isinya Gambar Porno

Ia menjelaskan, ketika Angkatan Udara bentukan mantan Presiden Irak Saddam Husein dibubarkan Amerika Serikat, banyak dari mereka bergabung dengan pemimpin ISIS, Abubakar Al Baghdadi.

Baca: Pria Ini Nekat Gantung Diri Gara-gara Gagal Masuk TNI dan Bertengkar dengan Pacar

Mereka menganggap kelompok yang dibentuk Abubakar ini sebagai "mainan baru". Berbeda dengan Al Qaeda, ISIS menganut ajaran ideologi yang berbeda, yaitu takfiri atau penyatuan kepada Tuhan.

Baca: Ssstt, Ternyata Artis Peran Yoga Pratama Ini Jadi Perampok Muda di Sumba

Namun, pemahaman ajaran ideologi tersebut diputarbalikkan. ISIS menganggap, semua benda yang diciptakan manusia, termasuk Ka'bah, adalah haram. Karena itu, benda-benda tersebut layak untuk dihancurkan.

"Maka tidak heran dengan peristiwa bom di Cirebon, anggota Polres Cirebon, mereka sedang shalat dibom bunuh diri," ujarnya.

Sementara itu, Al Qaeda, menurut Kapolri, hanya menyerang orang-orang Barat atau yang memiliki hubungan dengan Amerika Serikat.

Lebih jauh, Tito mengatakan, ISIS juga telah memutarbalikkan makna hijrah. Mereka menganggap, banyaknya simpatisan ISIS yang datang ke Suriah untuk mendalami ideologi serta belajar perang merupakan bagian dari hijrah.

Sebagai tuan rumah, anggota ISIS yang berada di Irak dan Suriah merasa berkewajiban untuk melindungi simpatisan yang mereka anggap sebagai mujahid.

Mereka memosisikan diri sebagai kaum anshor yang bertugas menjaga para tamu dari setiap ancaman yang datang.

"Itulah yang menyebabkan terjadinya interaksi sehingga mereka membentuk jaringan teroris global," katanya.

Penulis : Dani Prabowo

Editor: Asmadi Pandapotan Siregar
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved