Kamis, 23 April 2026

Ini Reaksi Presiden Putin Atas Penembakan Dubes Rusia

"Pembunuhan tersebut jelas merupakan provokasi yang bertujuan merusak perbaikan dan normalisasi hubungan Rusia dan Turki..." kata Putin.

Editor: fitriadi
YouTube
Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrey Karlov, ditembak mati dari belakang saat memberikan sambutan dalam pembukaan pameran di sebuah galeri seni di Ankara, Senin (19/12/2016). 

BANGKAPOS.COM, MOSKOW - Duta Besar Rusia untuk Turki, Andrey Karlov, ditembak mati dari belakang saat memberikan sambutan dalam pembukaan pameran di sebuah galeri seni di Ankara, Senin (19/12/2016) waktu setempat.

Menanggapi insiden tersebut, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan penembakan tersebut adalah upaya provokasi.

"Pembunuhan tersebut jelas merupakan provokasi yang bertujuan merusak perbaikan dan normalisasi hubungan Rusia dan Turki, serta merusak proses perdamaian di Suriah yang didukung Rusia, Turki, Iran, dan negara-negara lain yang berniat menyelesaikan konflik di sana," kata Putin dalam pernyataannya, seperti dikutip Liputan6.com dari situs RT, Selasa (20/12/2016).

Baca: VIDEO: Detik-detik Honor Dubes Rusia Ditembak Mati

Putin menambahkan, satu-satunya respons yang akan diambil pihak Moskow adalah dengan meningkatkan perlawanan terhadap terorisme.

"Para pembunuh akan merasakannya," kata Putin.

Baca: Mahasiswi Asal Babel Muntah Darah Usai Minum Kopi di Palangkaraya

Baca: Mahasiswi Asal Babel yang Tewas Usai Minum Kopi Ternyata Alumni Smansa

Baca: Terungkap, Ini Hasil Otopsi Mahasiswi Asal Babel yang Tewas Usai Ngopi

Presiden Rusia mengungkapkan, Dubes Andrey Karlov adalah seorang diplomat yang cemerlang yang dihormati di negara-negara tempatnya bertugas.

"Beliau tewas dalam tugas," kata Putin.

Baca: Adik Kandung Presenter Kembar Fadlan Fadli Disetrum, Dianiaya dan Nyaris Diperkosa

farah diba
Kabar memprihatinkan datang dari presenter kembar Fadlan Muhammad dan Fadli Akhmad. Adiknya, Farah Dibba diketahui menjadi korban kekerasan.

Komite Investigasi Rusia kini telah melakukan investigasi terkait penembakan tersebut. Putin juga mengaku telah berbicara lewat sambungan telepon dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk memastikan aparat kedua negara akan berkolaborasi menguak insiden tersebut.

"Kami harus mengetahui siapa yang mengorganisasi pembunuhan tersebut dan siapa yang memberikan perintah pada pelaku," kata Putin.

Baca: Ternyata Ini Bahan Baku untuk Membuat Uang Rupiah

Senada, Presiden Erdogan juga menyebut bahwa penembakan terhadap Dubes Rusia adalah provokasi untuk merusak hubungan bilateral Rusia dan Turki.

"Baik Turki maupun Rusia tak akan terkecoh dengan provokasi ini," kata dia. Erdogan menambahkan, saat ini pengamanan di sekitar Kedubes Rusia di Ankara dan sejumlah konsulat jenderal telah ditingkatkan.

Baca: Sudah 17 Pelatih Asing Tukangi Timnas Indonesia Cuma Satu yang Raih Trofi

Sebelumnya, pelaku penembakan diidentifikasi sebagai Mevlut Mert Altintas. Pria 22 tahun itu adalah mantan polisi Turki yang dipecat pascapenyelidikan atas kudeta 15 Juli 2016 lalu yang gagal menggulingkan rezim.

Altintas diduga terkait dengan organisasi FETO yang dikaitkan dengan Fethullah Gulen. Pria yang diduga masuk ke galeri dengan menyamar sebagai polisi dan menggunakan identitas palsu itu kemudian tewas di tangan aparat di lokasi kejadian.

5 Hal yang Akan Terjadi Pasca Penembakan

Sejauh ini, pemerintah Rusia dan Turki sama-sama mencoba mendinginkan suasana pasca-pembunuhan Dubes Andrey Karlov di Ankara, Senin (19/12/2016).

Baca: Ariel Tatum Semprot Netizen yang Menyebutnya Wanita Panggilan

ariel tatum
Aktris yang juga penyanyi, Ariel Tatum ditemui saat menghadiri acara konferensi pers perkenalan resmi aplikasi social messaging BeeTalk, di kawasan SCBD, Jakarta Selatan, Selasa (18/11/2014). Ariel Tatum menyukai beberapa fitur yang ada pada BeeTalk untuk mencari teman baru di sekitar rumahnya dan di manapun dia berada.

Dilansir dari Kompas.com, Rusia dan Turki menyatakan serangan itu ditujukan untuk merusak hubungan kedua negara yang sedang mekar kembali.

Bahkan, pemerintah AS mencoba ikut mencegah kerusakan lebih besar dengan menawarkan bantuan kepada kedua negara.

Belum diketahui apa yang akan terjadi berikutnya, tetapi berkaca dari pasang surut hubungan diplomatik Rusia dan Turki maka beberapa skenario buruk dampak dari pembunuhan ini tak bisa diabaikan.

1. Para peretas Rusia akan menyerang Turki

Rusia dikenal memiliki banyak peretas handal yang bisa mengacaukan kondisi politik di sebuah negara.

Pemerintah Turki sudah pernah merasakan "kepedihan" saat rahasia mereka diungkap para peretas ini.

Salah satunya pada 7 Deseber lalu saat Wikileaks merilis lebih dari 57.000 email milik Berat Albayrak.

Albayrak adalah menteri energi Turki dan sekaligus menantu Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Nah, para peretas Rusia bisa saja mengulangi perbuatan Wikileaks dan mengungkap lebih banyak rahasia gelap orang-orang dekat Presiden Erdogan.

2. Hubungan Rusia dan Turki kembali memburuk

Inilah yang terjadi setelah jet F-16 AU Turki menembak jatuh sebuah pesawat tempur Rusia di Suriah.

Saat itu, Rusia langsung membalas dengan melakukan embargo terhadap banyak produksi Turki.

Alhasil, nilai ekspor Turki ke Rusia langsung melorot sebesar 737 juta dolar AS atau sekitar Rp 9,8 triliun.

Selanjutnya, pembangunan pipa gas milik Turkish Stream yang awalnya ditujukan sebagai bagian dari kemitraan strategis kedua negara, ditunda.

Situasi perekonomian Turki tak membaik hingga Presiden Recep Tayyip Erdogan meminta maaf kepada Rusia pada Juni 2016.

3. Meningkatnya tekanan politik terhadap Rusia dan Turki

Pasca-kudeta yang gagal pertengahan tahun ini, pemerintahan Erdogan sudah memenjarakan ribuan orang.

Sementara Putin berkuasa setelah memberantas pemberontakan di Chechnya dengan sangat keras.

Intinya, pembunuhan Dubes Karlov di Ankara tak akan memberikan pertanda bagus bagi Rusia atau Turki.

4. Gencatan senjata di Aleppo batal

Di palagan Suriah, Turki dan Rusia adalah seteru, tetapi kedua negara ikut mendorong gencatan senjata terbaru yang memungkinkan evakuasi warga sipil dari Aleppo.

Pembunuhan Dubes Karlov ini dikhawatirkan bisa merusak kesepakatan gencatan senjata itu atau memicu kekerasan baru di tempat lain di Suriah.

Pasukan Rusia saat ini berada di wilayah utara Suriah dan posisi mereka tak jauh dari pasukan Turki yang ikut memerangi ISIS di beberapa kota perbatasan.

5. Rusia akan memainkan kartu Kurdi

Turki adalah anggota NATO, sehingga Rusia tak akan gegabah untuk memulai perang terbuka dengan tetangganya itu.

Meskipun diplomat senior, Karlov tak setara dengan Archduke Franz Ferdinan, putra mahkota kerajaa Austria-Hongaria yang tewas ditembak di Sarajevo.

Kematian Franz Ferdinand itulah yang kemudian menjadi titik awal pecahnya Perang Dunia I (1914-1918)

Namun, Rusia bisa memainkan ikatan historisnya dengan etnis Kurdi yang kini diperangi pemerintah Turki.

Bisa saya Rusia diam-diam mendukung pasukan milisi Kurdi, untuk menebar aksi teror di dalam wilayah Turki

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved