Jumat, 10 April 2026

Kelompok Moderat Diminta Sebar Gagasan Toleransi Cegah Radikalisme

"Bisa kita bayangkan ada sekitar 11 juta orang yang bersedia bertindak radikal. Itu sama dengan jumlah umat Islam di Jakarta dan Bali..."

Editor: fitriadi
Kristian Erdianto
Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid dalam sebuah diskusi di kantor Wahid Institute, Matraman, Jakarta Pusat, Kamis (22/12/2016). 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA - Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid berpendapat, saat ini ruang publik dipenuhi retorika atau gagasan intoleransi.

Gagasan tersebut, menurut Yenny, menjadi pintu masuk maraknya aksi radikalisme.

Baca: Jangan Sepelekan Situasi Kondusif di Bangka Belitung

Oleh sebab itu, dia berpendapat seharusnya masyarakat moderat ikut memenuhi ruang publik dengan gagasan toleransi sebagai tandingan pemikiran intoleransi.

"Jika intoleransi dibiarkan maka ruang publik diisi dengan gagasan intoleran. Kalau intoleransi didiamkan saja maka ruang publik akan diisi oleh retorika gerakan intoleran. Masyarakat toleran harus mengisi ruang publik ini juga," ujar Yenny dalam diskusi Darurat Keindonesiaan dalam Intoleransi di kantor Wahid Institute, Matraman, Jakarta Pusat, Kamis (22/12/2016).

Baca: Sosialita Cantik Ini Takut Dibuang Keluarga Gara-gara Gosip Jadi Selingkuhan Suami Olla Ramlan

Yenny menuturkan, berdasarkan survei Wahid Foundation terkait intoleransi, yang dilaksanakan pada Maret-Mei 2016, disimpulkan bahwa kampanye massif punya peran dalam mengubah perspektif atau pola pikir orang menjadi radikal.

Kampanye bernada unjaran kebencian itu menyebar dalam berbagai medium, dari mulai media sosial hingga khotbah di rumah-rumah ibadah.

Baca: Cyber Army Intai Kelompok Teroris Melalui Dunia Maya Begini Cara Kerjanya

Baca: Calon Pengantin Bom Dian dan Adam Ternyata Teman Dekat

Hal tersebut, kata Yenny, diperparah lagi dengan lemahnya penegakan hukum terhadap pelaku penyebar ujaran kebencian.

"Banyak khotbah yang tidak terfilter, sementara daya berpikir kritis masyarakat umumnya masih sangat rendah," kata Yenny.

Baca: Asal Mula Om Telolet Om Anak Indonesia yang Mendadak Mendunia

Berdasarkan survei Wahid Foundation, dari sisi radikalisme, sebanyak 7,7 persen dari 150 juta umat Islam bersedia melakukan tindakan radikal bila ada kesempatan dan sebanyak 0,4 persen justru pernah melakukan tindakan radikal.

Namun, Yenny mengingatkan meski hanya sebesar 7,7 persen, persentase tersebut cukup mengkhawatirkan.

Sebab persentase tersebut menjadi proyeksi dari 150 juta umat Islam Indonesia.

Baca: 10 Hal Mengharukan yang Selalu Ibu Sembunyikan dari Anaknya

Artinya jika diproyeksikan, terdapat sekitar 11 juta umat Islam Indonesia yang bersedia bertindak radikal.

Sementara itu, 72 persen umat Islam Indonesia menolak untuk berbuat radikal seperti melakukan penyerangan terhadap rumah ibadah pemeluk agama lain atau melakukan sweeping tempat yang dianggap bertentangan dengan syariat Islam.

"Bisa kita bayangkan ada sekitar 11 juta orang yang bersedia bertindak radikal. Itu sama dengan jumlah umat Islam di Jakarta dan Bali yang siap bertindak radikal, itu mengkhawatirkan," tutur Yenny.

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved