Pekerja Jepang Banyak yang Kelelahan Lalu Bunuh Diri Gegara Jam Kerja Berlebihan

Rata-rata karyawan di Jepang bekerja lebih dari 60 jam seminggu, kondisi itu membuat karyawan sebenarnya stres, tertekan, dan kelelahan.

wordpress.com
Ilustrasi 

BANGKAPOS.COM - Keseimbangan antara kerja dan kehidupan sepertinya tak berlaku di Jepang.

Bagi para karyawan di Jepang, kerja dan kehidupan adalah sama.

"Ini sudah jam 4 pagi. Badan saya gemetar. Saya seperti akan mati." Itu adalah salah satu tweet Matsuri Takahashi tak lama sebelum ia bunuh diri tahun lalu dengan cara melompat dari atas gedung.

Baca: Anak-anak Yana Zein Jual Koran dan Buku untuk Bantu Pengobatan Ibu Tercinta

Takahashi, wanita berusia 24 tahun ini adalah pekerja di perusahaan periklanan Dentsu.

Bukan hanya kelelahan bekerja, dalam tweet-nya Takahashi juga mengatakan ia menjadi korban pelecehan bosnya.

Baca: Hari Pertama Merengkuhmu Kini Jadi Hari Terakhir Aku Bersamamu

Skandal tersebut membuat pimpinan Dentsu, Tahashi Ishii memilih mengundurkan diri.

Ia juga meminta maaf kepada keluarga Takahashi secara pribadi.

Baca: 6 Pemain Naturalisasi yang Tak Ada Kontribusi Nyata bagi Timnas Indonesia

Budaya kerja sampai tenaga habis, di mana waktu kerja minimal 12 jam sehari, tidak hanya terjadi di Dentsu, tapi mayoritas perusahaan Jepang.

Rata-rata karyawan bekerja lebih dari 60 jam seminggu, bahkan sangat jarang mengambil libur.

Kondisi itu membuat karyawan sebenarnya stres, tertekan, dan kelelahan.

Halaman
123
Editor: fitriadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved