Terbatas, Bambang Tri Mulyono Ternyata Cetak 300 Eksemplar Buku Jokowi Undercover

Buku Jokowi Undercover memiliki tebal 436 halaman. Buku tersebut terdiri dari banyak bab yang isinya masing-masing hanya tulisan pendek sepanjang...

Terbatas, Bambang Tri Mulyono Ternyata Cetak 300 Eksemplar Buku Jokowi Undercover
Dokumentasi Humas Polres Blora
Sat Reskrim Polres Blora mendampingi tim Bareskrim Mabes Polri menggeledah rumah Bambang Tri Mulyono di Desa Sukorejo, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, Rabu (4/1/2017) malam. DOKUMENTASI HUMAS POLRES BLORA 

BANGKAPOS.COM, JAKARTA -- Bambang Tri Mulyono, penulis buku Jokowi Undercover memilih mencetak buku secara terbatas.

Baca: Foto Buku Nikah Bertulis Nama Bupati Katingan dan Farida Yeni Beredar

Sedikitnya 300 eksemplar buku Jokowi Undercover dicetak di tempat percetakan yang tidak jelas.

Baca: Ini Dia Deretan Artis Tercantik Anak Jalanan

Apalagi, buku Jokowi Undercover tidak mencantumkan nama perusahaan percetakan.

"Pencetaknya tidak jelas karena tidak ada penerbitnya," kata Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian di RS Polri, Jakarta, Jumat (6/1/2017).

Baca: Ngaku Jadi Korban Kekerasan Seksual, Perempuan Telanjang Ini Nekat Curi Mobil Patroli Polisi Arizona

Buku Jokowi Undercover memiliki tebal 436 halaman. Buku tersebut terdiri dari banyak bab yang isinya masing-masing hanya tulisan pendek sepanjang tiga hingga lima halaman.

Baca: Nakalnya Netizen Serbu Postingan Akun Instagram Selingkuhan Bupati Katingan

Tito mengatakan, isi buku itu tidak sesuai dengan judulnya. Terlebih lagi, tak hanya Presiden Joko Widodo yang dibahas di sana, Bambang juga menuliskan soal masalah nasional dan hal lain yang dianggap menarik.

"Topik soal yang bersangkutan (Jokowi) sendiri hanya beberapa. Jadi sebetulnya judulnya tidak menggambarkan isinya," kata Tito.

Tito menilai, buku itu jauh dari sebutan buku akademik. Pasalnya, Bambang tak memiliki sumber yang jelas sebagai referensi penulisan.

Selain itu, tak ada dokumen wawancara sumber sebagai bahan informasi dalam penulisan buku. Isinya pun diyakini jauh dari fakta sebenarnya karena tak ada bukti yang menunjang.

"Buku akademik itu jelas ada penerbitnya, editornya, autobiografi penulisnya, kemudian substansinya mengalir dari satu bab ke bab lain. Kita tidak lihat itu," urainya.

Halaman
1234
Editor: asmadi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved