Ternyata Ini Alasan Tarif STNK dan BPKB Naik Hingga Berlipat

Dari informasi yang diterima Gaikindo, alasan kenaikan itu lantaran belum pernah ada kenaikan sejak 2010.

Ternyata Ini Alasan Tarif STNK dan BPKB Naik Hingga Berlipat
Tribun Jateng/dok
Ilustrasi 

BANGKAPOS.COM, SEMARANG - Industri otomotif keberatan dengan kenaikan tarif STNK yang cukup tinggi karena dikhawatirkan terjadi penundaan pembelian kendaraan bermotor.

Meskipun demikian, kenaikan tarif tersebut harus diiringi oleh perbaikan pelayanan dan kemudahan pengurusan.

Ketua Umum Gabungan Agen Tunggal Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi mengaku sudah mendapat penjelasan atas kenaikan tarif tersebut.

Dari informasi yang diterimanya, alasan kenaikan itu lantaran belum pernah ada kenaikan sejak 2010.

http://cdn2.tstatic.net/jateng/foto/bank/images/tarif-baru-pajak-kendaraan-bermotor-di-samsat-kota-semarang_20170106_224646.jpg

Tarif baru pajak kendaraan bermotor di Samsat Kota Semarang.

”Mereka menyebutkan ini adalah inflasi yang normal setelah 6-7 tahun tidak dinaikkan,” kata Yohannes, di Jakarta, Jumat (6/1).

Menurut dia, industri otomotif menerima kebijakan pemerintah tersebut meskipun dirasa memberatkan. Terlebih, kenaikan tarif STNK itu cukup tinggi dan terkesan terburu-buru.

”(Kenaikan) Agak memberatkan. Kami dari pihak otomotif, walaupun sebaiknya, kalau kami inginnya, kalau perlu, enggak usah naik. Tapi, kan ini kebijakan pemerintah jadi kami menerima hal ini,” tuturnya.

Kalau kenaikan tidak bisa dihindari dan sudah menjadi kebijakan pemerintah, setidaknya ada perbaikan pelayanan. Selain itu, masyarakat dimudahkan ketika melakukan perpanjangan STNK dan sebagainya.

”Itu akan sangat membantu. Seperti yang dijanjikan, pelayanan STNK tidak harus di satu tempat, tetapi bisa (diurus) di tempat lain. Seperti mengurus SIM, makin lama makin mudah kan. Dari segi waktu pelayanan pun juga diharapkan lebih cepat,” tuturnya.

http://cdn2.tstatic.net/jateng/foto/bank/images/antrean-di-kantor-samsat-iii-krapyak_20170106_224453.jpg

Plt Ketua Ombudsman RI Perwakilan Jateng, Sabarudin Hulu sidak ke Kantor Samsat III di Krapyak, Jumat 6 Januari 2017.

Pengaruhi penjualan

Jika dibandingkan dengan harga mobil di kisaran Rp 100 juta-Rp 200 juta, kenaikan biaya pengurusan STNK itu hanya berkisar ratusan ribu.

Namun, dia memperkirakan adanya pengaruh berupa penundaan konsumen untuk membeli kendaraan bermotor.

”Kalau kita lihat harga mobil yang paling murah Rp 200 juta, Rp 120 juta, kenaikan hanya beberapa ratus ribu. Yang terjadi, mungkin ada sedikit penundaan (pembelian) karena orang akan bertanya-tanya,” ucapnya.

Editor: fitriadi
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved