Kemasan Produk IKM di Pangkalpinang Rata-rata Sudah Terstandarisasi

dengan bentuk kemasan yang juga sudah terstandar dengan mencantumkan tanggal kedaluarsa, berat netto,

Kemasan Produk IKM di Pangkalpinang Rata-rata Sudah Terstandarisasi
Zulkodri/Bangkapos
Produk IKM di Kota Pangkalpinang yang kemasannya sudah terstandarisasi.

Laporan wartawan Bangka Pos, Zulkodri

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Kasi pembangunan dan sarana dan prasarana industri Disperindagkop dan UMKM Kota Pangkalpinang mengatakan dari 1206 Industri Kecil Menengah (IKM) yang terdata di Pangkalpinang 576 IKM bergerak di produk makanan.

Dari jumlah tersebut, 300 diantaranya sudah terstandarisasi dengan baik atau sudah memiliki sertifikasi PIRT (Penyuluh Industri Rumah Tangga), dengan bentuk kemasan yang juga sudah terstandar dengan mencantumkan tanggal kedaluarsa, berat netto, merk maupun komposisi produk makanan tersebut.

Baca: Canggih, Di Pasar Tradisional Ini Belanja Sudah Bisa Secara Online

Sisanya 267 IKM di 2016 lalu sudah difasilitasi sedang dan sudah dalam proses pembuata PIRT.

"Kalau untuk produk lokal termasuk tradisional di Pangkalpinang sepengetahuan kami dari IKM yang kami bina sebagian sudah memiliki PIRT dan dalam proses. Kalau untuk kemasan rata-rata sudah terstandar. Yang belum mencantumkan tanggal kadaluarsa dan sebagai memang temuan tapi itu, produk dari luar pangkalpinang," jelas Elyta kepada bangkapos.com, Selasa (31/01/2017).

Tidak hanya itu, lanjut Elyta untuk meningkatkan kualitas prosuk IKM, selain terus menerus melakukan pembinaan, pihaknya juga bekerjasama dengan sejumlah pihak mulai dari BPOM, Dinas Kesehatan, toko maupun supermarket yang ada di Kota Pangkalpinang.

"Untuk pembuatan PIRT kita kerjasama dengan Dinas kesehatan dan BPOM, yang akan mengecek produk dan akan mengeluarkan sertifikatnya. Ini untuk memastikan higienis produk dan sebagainya," ucap Elyta.

Selain melakukan pembinaan, pihak Disperindagkop dan UMKM juga akan bertindak tegas kepada pemilik IKM yang membandel.

"Untuk meningkatkan kualitas produk agar bisa bersaing dengan produk luar daerah. Kita terus mengingatkan dan kerjasama dengan pemilik toko maupun supermarket agar tidak menerima produk yang tidak memiliki kemasan yang terstandarisasi. Pemilik IKM akan kita panggil,"ucap Elyta.

Sedangkan untuk membuat kemasan produk yang terstandart, lanjut Elyta bisa ada dua cara khusus untuk mencantumkan batas kadaluarsa, berat, komposisi maupun merk produk yakni dengan cara disablon atau mengunakan sticker.

"Kalau produk yang hanya bertahan satu hari, tidak perlu ada kemasan terstandart, kalau lebih maka wajib, sebab itu sudah ada perwakonya, bisa dengan cara disablon atau mengunakan sticker. Khusus sablon harus tidak meninggalkan bau menyengat dan tidak mudah luntur, kalau sticker harus kuat tidak mudah lepas," ucapnya.(Zky)

Cara agar produk IKM terdaftar dan memiliki PIRT dan Sertifikat Halal:
1. Pemilik atau pelaku IKM melapor dan mendaftarkan produknya ke Disperindagkop.
2. Membuat surat keterangan usaha dan izin usaha di kelurahan
3. Lampirkan fotocopy, KTP dan pas foto
4. Setelah terdata, pihak Disperindag dan Dinas kesehatan akan mengecek lokasi produksi produk dan cara pembuatan produk.
5. Apabila dinyatakan layak maka, sertifikasi PIRT akan dikeluarkan oleh pihak Dinkes.
6. Selanjutnya pembuatan sertifikasi halal, dimana pihak disperindagkop akan bekerjasama dengan BPOM.

Kemasan yang standarisasi:
1. menampilkan tanggal pembuatan dan massa kadaluarsa
2. Harus menampilkan berat (netto) produk.
3. Harus menampilkan komposisi
4. Harus menampilkan merk atau nama pemilik maupun alamat tempat usaha.
5 Kalau ada sertifikasi halal juga dicantumkan.

Penulis: zulkodri
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved