Ayub Sebut Masyarakat Nelayan Diancam dengan Senjata Rakitan

LKPI menemukan aktivitas Tambang Inkonvensional (TI) apung masih marak di sejumlah tempat di Pulau Bangka.

Ayub Sebut Masyarakat Nelayan Diancam dengan Senjata Rakitan
Bangkapos.com/Dok
TI apung di Sungai Perimping, Riausilip. 

Laporan Wartawan Bangka Pos Nurhayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Berdasarkan laporan nelayan, Lembaga Kelautan dan Perikanan Indonesia (LKPI) menemukan aktivitas Tambang Inkonvensional (TI) apung masih marak di Romodong Belinyu dan DAS Perimping Riausilip.

Direktur Eksekutif Lembaga Kelautan dan Perikanan Indonesia (LKPI) Ayub Faidiban mengatakan masyarakat sudah melapor kepada semua pihak termasuk pejabat yang ada di daerah hingga bupati, tetapi tidak ada penyelesaian terhadap penambangan tersebut.

LKPI juga menemukan TI apung masih beroperasi di perairan Pantai Pasir Kuning Tempilang, Bangka Barat.

"Bagaimana kita berwisata dengan baik sedangkan aktivitas ini ada di depan kita? Sampai kapan bisa dihentikan persoalan-persoalan seperti ini. Bukan itu saja, tetapi penambang ilegal ini, kalau masyarakat nelayan ke sana mereka ditakut-takuti karena di atas kapal itu mereka membawa senjata rakitan. Ini sudah dilaporkan sampai hari inipun juga tidak ada tindakan. Ini sebenarnya ada apa dibalik ini?" tanya Ayub saat berdialog dengan LPP RRI Sungailiat yang dipandu reporter RRI, Sari, Senin (6/2/2017).

Menurutnya, masyarakat harus melapor kemana lagi tetapi hingga kini tidak ada penyelesaian dari pemerintah daerah maupun aparat penegak hukum.

"Berarti kita memberikan untuk mereka melakukan kejahatan lalu melakukan pengancaman terhadap masyarakat yang punya wilayah," sesal Ayub.

Dia meminta agar pemerintah daerah segera tanggap agar masyarakat tidak menjadi korban. Ditegaskannya harus ada solusi terkait penambangan timah ilegal ini.

"Saya pun juga tidak berhenti sampai di sini apalagi anggota DPRD provinsi, ini tugasnya anggota dewan sebagai kepanjangantangan dari rakyat melakukan fungsi pengawasan terhadap persoalan masyarakat seperti ini sehingga apa yang kita bicarakan hari ini tidak terus berulang. Hari ini kita berbicara, besok sudah ada action, ada perhentian maka tidak ada lagi persoalan yang dihadapi masyarakat," harap Ayub.

Penulis: nurhayati
Editor: fitriadi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved