Sabtu, 11 April 2026

Syafrie Rahman Bupati Bangka Kelahiran Belinyu, Ini Kisahnya

Dalam buku Pemimpin di Tengah Rivalitas Politik Biografi Syafri Rahman, diketahui Syafrie Rahman bergelar Mayor (AD)

Penulis: edwardi | Editor: edwardi
IST
Rumah Sakit Umum Daerah ( RSUD ) Pratama Puding Besar yang akan dibangun tahun 2017 bakal diberi nama Syafri Rahman. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Pemerintah Kabupaten Bangka rencananya akan mengabadikan nama Syafrie Rahman, Bupati Bangka periode 17 Juli 1963 sampai dengan 30 Juli 1965 sebagai nama Rumah Sakit Pratama di Kecamatan Puding Besar.

Selain itu nama Depati Bahrien sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah Sungailiat.

Siapakah kedua orang ini?

Berikut ulasan singkat mengenai mereka berdua yang dihimpun dari berbagai data dan sumber.

1. Syafrie Rahman.

Dalam buku Pemimpin di Tengah Rivalitas Politik Biografi Syafri Rahman, diketahui Syafrie Rahman bergelar Mayor (AD) dengan NRP 11696 yang lahir di Belinyu, 15 November 1926.

Ia dikenal sebagai salah satu pejuang militan pada masa-masa perjuangan merebut kemerdekaan RI pada tahun 1945 dan gugur dalam perjuangan mengisi kemerdekaan.

Beliau juga menempuh pendidikan umumnya di Belinyu dan pendidikan militernya di Kota Palembang dan terlibat juga di kancah peperangan berskala nasional seperti perang Lima Hari Lima Malam di Palembang, Agresi Militer pertama dan kedua, dan operasi penumpasan gerakan DI/TII di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Tahun 1961, Syafrie Rahman ditugaskan di Bangka dan menjadi Kepala Staf Komandan Perwira Distrik Militer dan Pelaksana Kuasa Perang yang berkedudukan di Pangkalpinang.

Perjalanan karir sipil Syafrie Rahman semakin terbuka ketika dilantik menjadi bupati/Kepala Daerah TK II Bangka pada tanggal 17 Juli 1963.

Lebih jauh perjalanan karir militer dan sipilnya semakin bagus, dan namun juga ada kendala sehingga berujung maut.

Sabotase Kapal Motor Bea Tjukai (KM BT) 32 yang merenggut nyawa Bupati Bangka dengan usia 39 tahun dan sejumlah petingi Bangka lainnya merupakan prolog G30S PKI, berjarak dua bulan kemudian meletus G 30 S PKI di Jakarta.

Sabotase KM BT-32 merupakan sebuah operasi berdarah yang didalangi CC-PKI Bangka terhadap Kapal Motor Bea Tjukai bermomor lambung BT-32 di perairan Selat Bangka, Jumat 30 Juli 1965

2.Depati Bahrien.

Depati Bahrien lahir pada tahun 1770-an anak dari Depati Anggur. Istrinya bernama Dakim, Atina Ali dan Sophia, tanggal meninggalnnya Juni 1848 di Menareh, dan dimakamkan di Lubuk Bunter Desa Kimak, kecamatan Merawang,

Tak banyak hal lain yang bisa diuraikan, namun berdasarkan riwayat, Depati Bahrien, pernah menjadi pekerjaan sebagai Depati Jeruk bidang Pemerintahan Lokal di bawah Kesultanan Palembang dengan Distrik Jeruk (Kabupaten Bangka) sekitar tahun 1819 sampai dengan 1828.

Selain itu juga pernah menjadi Pemimpin Perang Bangka I bidang perjuangan.

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved