Kamis, 11 Juni 2026

Mengejutkan! Begini Nasib Pria Asal Pangkalpinang yang Pernah Pidato di Markas PBB

Apa kabar Muhammad Robby Saputra, alumni Universitas Al Ahzar Jakarta, jurusan teknik elektro yang pernah berpidato dalam forum PBB

Tayang:
Penulis: Alza Munzi | Editor: Alza Munzi
Istimewa
M Robby Saputra saat berpidato di Markas PBB. 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Apa kabar Muhammad Robby Saputra, alumni Universitas Al Ahzar Jakarta, jurusan teknik elektro yang pernah berpidato dalam forum International Young Leaders Assembly (IYLA) di Markas Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), Amerika Serikat?

Pria Kelurahan Aititam, Kota Pangkalpinang, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini sudah punya kesibukan sendiri.

Baca: Wanita Ini Dinilai Lecehkan Jokowi dan Budaya Maluku, Begini Reaksi Netizen

Beruntung, tak lama lulus kuliah, jebolan SMAN 1 Pemali ini langsung diterima bekerja di PT Erry Guna, perusahaan yang bergerak di suplier lensa Canon broadcasting se-Indonesia di Jakarta.

"Perusahaan ini milik orang asli Bangka juga, punya Bang R Indra Sandy, anak Pak Agus Erwin," ungkap Robby melalui pesan whatsapp (WA), Minggu (27/2/2017).

Dia mengaku bersyukur diterima bekerja di perusahaan tersebut lantaran tidak hanya dididik sebagai karyawan tetapi kedepannya menjadi seorang pengusaha.

Baca: Jika Tak Kooperatif, Malaysia Akan Tangkap Diplomat Korea Utara

Robby yang sedari dulu bercita-cita ingin menjadi pengusaha, merasa inilah kesempatan dirinya melangkah lebih maju untuk memperbaiki kehidupan terutama ekonomi keluarga.

Maklum saja, sebagai anak yatim setelah ayahnya, M Salim pegawai Dinas PU Babel meninggal tahun 2007 karena sakit, ekonomi keluarganya belum begitu baik.

Sebagai bentuk perhatian, pihak dinas mengangkat ibu Robby menjadi petugas cleaning service.

"Saya fokus dulu di bidang ini," ujar Robby yang mengaku masih lajang.

Baca: 4 Fasilitas Super Mewah untuk Raja Salman Selama di Indonesia

Pada Agustus 2015 lalu, Provinsi Kepulauan Babel dibuat bangga oleh laki-laki kurus dengan penampilan dan sikap yang sederhana ini.

Berkat ketekunan dan semangat menyala-nyala untuk mencapai mimpi-mimpinya, dia bisa berdiri di mimbar Markas PBB, Amerika Serikat.

Putra sulung pasangan almarhum Muhammad Salim dan Sulastri, pernah membagi pengalaman dan kisah hidupnya saat diwawancara wartawan Bangka Pos Group di rumahnya, Rabu (26/8/2015) lalu.

Menurutnya, tidak sembarang orang dapat berdiri dan berbicara di depan podium yang dihadiri 1000 orang dari 90 negara.

Baca: Wanita Cantik Terjerat Kasus Kim Jung Nam Pernah Berpose Pakai Bikini dalam Motor Show

Mewakili Indonesia, Robby dan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Gugun Gumilar (Sekretaris Ketua DPD RI) dan Qisma (anak Sekjen PBNU) berpidato dalam acara bertemakan “Kepemimpinan Moral dan Inovatif: Visi, Service, Kewirausahaan, dan Kepemimpinan”.

Tiga nama lain dari Indonesia sudah dikenal oleh publik dan termasuk orang berpunya di negeri ini. Beda dengan Robby, hanya modal semangat dan percaya dirilah yang membuatnya sejajar di Amerika Serikat.

Hanya 50 orang dari 27 negara yang termasuk tamu istimewa PBB, pada tanggal 10-19 Agustus 2015 lalu. Robby mendapat kartu khusus yang menempatkan dirinya di kursi terhormat dalam forum tersebut.

Baca: Duh Kasihan, Unggah Foto Tasbih, Ayu Ting Ting Malah Kena Sindiri Netizen

"Sepuluh hari di Amerika menginap di Hotel Metro Point bersama peserta dari New York, Mathew Thompson. Orangnya baik, hanya saja memilih tidak beragama. Ketika saya shalat, awalnya sempat heran dan bertanya banyak hal tentang agama, pernikahan, hubungan lawan jenis. Sangat menarik sekali bertemu dengan beragam orang dari berbagai dunia. Peserta tidak hanya mahasiswa S1, S2 atau S3 saja, ada LSM termasuk pejabat negara, menteri," kata Robby.

Di Amerika, Robby dan peserta lainnya mengikuti kegiatan di tiga kota yakni Washington DC, Philadelphia dan New York. Selain ke Markas PBB, mereka juga mengikuti kegiatan di Hall of States, World Bank, Embassies, US Departement of State, Capitol Hill, Wilson Center dan National Constitution Center.

Beruntung meski tidak disediakan nasi, Robby akhirnya terbiasa makan roti khas Amerika. Sehingga, tenaga dan pikirannya sangat prima mengikuti kegiatan bergengsi skala internasional tersebut.

"Saya diberi waktu berbicara 20 menit tentang kepemimpinan pemuda dan berbagi tentang ide serta gagasan. Semuanya mengalir begitu saja," ujar Robby yang biasa berbahasa Inggris saat masih sekolah di SMAN 1 Pemali.

Peraih beasiswa penuh dari Universitas Al Ahzar Jakarta ini beruntung aktif berorganisasi sejak SMA. Dia juga aktif melakukan kegiatan sosial dan kepemudaan.

Sebelumnya dia pernah ke Filipina, tanggal 28 Januari 2015 lalu, dalam kegiatan Asean Youth Leader Association, yang dibiayai KNPI Babel dan Universitas Al Ahzar.

Robby juga aktif di Global Peace Foundation, sebuah lembaga perdamaian dunia, yang kemudian merekomendasikan namanya kepada Kemenpora RI untuk ikut forum IYLA.

"Kegiatan saya dan teman-teman mengumpulkan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia dalam pertemuan di Tanjung Pesona Sungailiat beberapa waktu lalu, menarik perhatian Global Peace Foundation. Semangat menyuarakan perdamaian dan kepemimpinan pemuda menjadi alasan mereka memilih saya," kata Robby.

Berbekal jas, sepatu dan baju pinjaman teman, Robby terbang ke Amerika Serikat. Maklum saja, Robby adalah mahasiswa sederhana, laptop saja tidak punya ketika menyusun makalah dan presentasi.

Dia baru mengetik di laptop pinjaman ketika teman-temannya tidur.

Kendala-kendala itu tidak membuat Robby putus asa, justru semakin menebal semangat perjuangannya menggapai mimpi-mimpi.

Berjualan Pempek

Satu jam sebelum berangkat ke Amerika Serikat, Robby masih sempat-sempatnya mencetak sendiri spanduk berlambang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tempat kelahirannya.

Berkat Robby, spanduk Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berkibar di dalam Markas PBB, Amerika Serikat. Mungkin hanya Robby, satu-satunya orang Babel yang mengibarkan spanduk itu di Markas PBB dalam sejarah berdirinya provinsi ini.

Meski serba pas-pasan tak membuat Robby patah arang. Saat kuliah di Universitas Al Ahzar Jakarta, selama dua tahun dia berjualan pempek-pempek di SMPN 239 dan SDN 1 Lenteng Agung.

Dia juga bekerja paruh waktu mengajar Fisika dan Matematika di sebuah bimbel. Robby mengaku beruntung tinggal di asrama ISBA Jaya Jakarta karena tak perlu membayar sewa tempat tinggal.

Karena kebaikan dan ketekunannya pula, Robby merasa ada kejadian-kejadian tak terduga menolong dirinya.

Ketika hendak pulang dari Amerika Serikat, pihak Kemenpora membelinya tiket dua kali transit di Jerman, yang mewajibkan penumpang mengantongi visa.

Kebetulan saat di bandara, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sering memanggilnya "Orang Babel", dan ternyata panggilan itu terdengar oleh Indra Jaya (52), PNS Kedubes RI di Amerika Serikat.

"Woi jok, ka orang Bangka ok. Ade ape." Begitu sapaan Indra, warga Kampung Dalam, Pangkalpinang yang beristrikan orang dari Desa Belilik, Bangka Tengah.

Robby sempat menginap semalam di rumah Indra yang sudah 27 tahun di Amerika Serikat. Robby juga sempat mencicipi lempah kuning buatan istri Indra dan mengunyah nasi setelah sepuluh hari sebelumnya makan roti.

Indra Jaya pula yang mengganti ongkos tiket pesawat di Jerman sehingga hanya perlu satu kali transit. Jika tidak ada Indra, bukan perkara mudah mengurus persoalan tersebut di bandara sekelas Jerman.

Selama setahun ini, Robby dan puluhan mahasiswa berprestasi lainnya dibina pihak Kedubes AS untuk dididik menjadi wirausahawan. Kesempatan inilah yang akan diambil Robby setamat kuliah nanti.

"Saya ingin berwirausaha, aktif di sosial kreatif dan saya tidak bercita-cita menjadi pegawai," ujarnya.

Akhirnya, pada 2017 ini, impian pemuda Airitam yang diucapkannya bertahun-tahun lalu, sedikit demi sedikit mulai terwujud.

Menjadi seorang pengusaha adalah cita-citanya. 

Semoga tercapai, Robby!

Sumber: bangkapos
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved