Fisip UBB Evaluasi Pilgub Babel

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung menggelar Seminar Evaluasi Pilgub Babel 2017, Senin (27/2)

Fisip UBB Evaluasi Pilgub Babel
Fisip UBB Evaluasi Pilgub Babel 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Bangka Belitung menggelar Seminar Evaluasi Pilgub Babel 2017, Senin (27/2) di Hotel Puri 56 Pangkalpinang.

Kegiatan ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Zulterry Apsupi (Bawaslu Babel), Zulkarnain (KPU Bangka) dan Ranto (Dosen Ilmu Politik FISIP UBB).

Acara yang dimoderatori oleh Sandi Pratama dan dibuka oleh Dekan FISIP UBB, Ibrahim tersebut berlangsung lancar dan antusias. Selain sesi penyampaian materi, seminar ini juga diikuti diskusi intensif oleh para peserta.

Gubernur BEM FISIP, Janovan Tiranda menyampaikan, bahwa seminar tersebut menghasilkan rekomendasi yang akan disampaikan kepada KPU dan Bawaslu selaku penyenggara dan pengawas Pilgub.

Adapun Ibrahim dalam sambutan pembukaannya mengatakan bahwa FISIP UBB memiliki hak dan kewajiban dalam kontestasi demokrasi, disamping relevansi keilmuan juga ada tanggung jawab moral untuk mengawal suksesi politik secara bersama.

Ketua KPU Bangka, Zulkarnain yang mewakili penyelenggara dalam paparannya mengatakan bahwa salah satu masalah mendasar dan bersifat klasik dalam penyelenggaan pemilihan adalah Daftar Pemilih Tetap (DPT).

Menurutnya, sepanjang DPT selalu bermasalah, maka Pemilu dan Pilkada akan selalu berhadapan dengan urusan partisipasi. Karena itu, menurutnya ada tantangan tersendiri dalam mengatasi persoalan DPT karena data kependudukan cenderung dinamis dari waktu ke waktu.

Sementara itu, Zulterry dalam paparannya mengatakan bahwa Pilgub diwarnai dengan berbagai persoalan, di antaranya integritas para kandidat dan tim suksesnya dalam berpartisipasi, kendala perangkat hukum yang masih membatasi, dan partisipasi masyarakat yang berkenaan dengan kesadaran dan faktor teknis.

Komisioner Bawaslu ini menegaskan bahwa ada kesuksesan Pilkada tidak bisa dibebankan hanya kepada penyelenggara, melainkan sebagai tanggung jawab bersama.

Ranto, narasumber dari kalangan kampus dalam paparannya menyajikan beberapa catatan kritis terhadap penyelenggaraan Pilgub.

Pemilihan menurutnya masih menyisakan catatan terkait politik uang. Masih ditemukan pembagian beras, kain sarung, dan uang dalam berbagai modus.

Pemberian tersebut dibungkus dengan berbagai cara yang tersamar. Hal ini menurut Ranto masih menunjukkan bahwa Pilkada belumlah dibayangkan sempurna.

Ia menekankan pentingnya ke depan untuk mendorong kesadaran partisipatif masyarakat dalam memilih dengan lepas dari imimg-iming, mendorong partai politik dan kandidatnya mengedukasi publik melalui kampanye cerdas, serta meningkatkan partisipasi dengan mendorong terobosan penyelenggara.

Dalam diskusi tersebut, para peserta menyampaikan berbagai pandangan. Hendra Sinaga, dari KPU Bangka Tengah mengatakan bahwa setiap daerah pada dasarnya mengalami dinamika yang berbeda. Ia mencontohkan bahwa pada kasus Bangka Tengah, Partisipasi Pilgub 2017 justru mengalami peningkatan partisipasi. Diluar itu, mengemuka juga mengenai substansi Pilgub mengenai pentingnya pemenang Pilgub menepati janjinya kelak setelah dilantik. (*/gea)

Penulis: giarti
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved