Rabu, 8 April 2026

Limbah KIP Rusak Jaring Nelayan, Pengusaha KIP: Alangkah Bodohnya Orang Itu

Kalau ada jaring nelayan nyangkut ke barang-barang bekas dari kapal, bukan berarti itu limbah KIP, karena sekarang

Editor: Hendra
IST
Jaring nelayan yang ngangkut limbah dari perbaikan KIP yang sedang tambat atau docking di daerah tangkapan nelayan di Teluk Kelabat. 

Laporan Wartawan Bangka Pos Riyadi

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Soal Kapal Isap Produksi (KIP) yang yang sedang berlabuh (untuk) berlindung di Teluk Kelabat, pernah dibahas oleh Lembaga Kelautan Perikanan Indonesia (LKPI) pusat dan PT Timah di Jakarta, baru-baru ini.

"KIP yang berlabuh di daerah tangkapan nelayan menggangu aktifitas nelayan, ada juga KIP yang melakukan perbaikan kapal, kemudian limbahnya di buang ke laut, sehingga terkena jaring nelayan, limbah tersebut ada yang mengakibatkan jaring nelayan rusak, ada juga (limbah) ikut terangkat," kata Wadir LKPI Bangka Hanif kepada bangkapos.com Jumat (3/3/2017).

Namun Hanif belum menjelaskan tentang apa saja solusi atau penyelesaian dari persoalan tersebut, yang sebelumnya di bahas bahas bersama PT Timah.

Tidak mungkin
Seorang Pengusaha KIP yang kapalnya berada di Laut Belinyu mengungkapkan, KIP yang berlabuh atau sedang berlindung, secara umum melakukan kegiatan perbaikan.

Kemungkinan untuk membuang limbah dari kegiatan perbaikan itu, sangat kecil.

"Logikanya begini lho, kalau ada besi atau baja, sisa-sisa dari kegiatan perbaikan KIP, itu memang jadi limbah, tapi limbah itu punya nilai, sekalipun jadi rongsokan, itu punya nilai, harga, ya sangat tidak mungkin kalau kita buang ke laut, kan itu laku di jual, nggak usah besi dan baja, oli bekas saja laku Boss, mana mungkin kita buang ke laut, kalau sampai membuang barang-barang begituan, alangkah bodohnya orang itu, rugi lah," ujar seorang pengusaha KIP.

Kalau ada jaring nelayan nyangkut ke barang-barang bekas dari kapal, bukan berarti itu limbah KIP, karena sekarang namanya pengusaha KIP, tetap punya pertimbangan nilai ekonomis terhadap barang-barang sisa hasil perbaikan KIP.

Namun, mungkin saja, limbah tersebut, adalah sisa-sisa kapal keruk yang digunakan untuk menambang di laut, sebelum muncul masa KIP.

"Kalau KIP kami sedang nge-dock dan melakukan perbaikan, pasti saya awasi, karena saya tidak mau ada sisa-sisa dari perbaikan apakah itu terbuang atau sengaja di buang ke laut, karena sangat sayang sekali kalau sampai nyebur ke laut, meskipun sisa, tapi harganya mahal, jadi kami sangat ketat dalam mengawasi, agar jangan sampai apapun barangnya di buang ke laut, kalau ada kapal buang besi dan baja ke laut, itu artinya orang nggak tahu dengan duit," jelasnya.

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved