Terbukti Menista Agama, Bekas Pimpinan Gafatar Ahmad Mushaddeg Divonis 5 Tahun Penjara

Sejumlah tokoh yang pernah memimpin Gafatar dinyatakan bersalah untuk pasal penodaan agama.

Terbukti Menista Agama, Bekas Pimpinan Gafatar Ahmad Mushaddeg Divonis 5 Tahun Penjara
Kristian Erdianto
Warga eks Gafatar melakukan media visit ke kantor redaksi Kompas.com, Palmerah Selatan, Jakarta Barat, Jumat (12/8/2016). Dalam kesempatan itu mereka menceritakan beberapa tindakan diskriminarif yang mereka alami pasca evakuasi paksa dari Mempawah, Kalimantan Barat. 

BANGKAPOS.COM - Sejumlah tokoh yang pernah memimpin Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang sudah bubar dibebaskan dari dakwaan makar namun dinyatakan bersalah untuk pasal penodaan agama.

Eks pemimpin Gerakan Fajar Nusantara ( Gafatar) Abdussalam alias Ahmad Mushaddeg dihukum pidana penjara lima tahun setelah dinyatakan terbukti bersalah menista agama.

Namun majelis hakim menyatakan Mushaddeg tidak terbukti melakukan makar. Sebelumnya, jaksa menuntutnya hukuman 12 tahun penjara untuk pasal penistaan agama dan makar.

Vonis lima tahun pidana penjara juga diberikan kepada tokoh eks Gafatar lainnya Mahful Muis, sedangkan terdakwa ketiga Andry Cahya divonis tiga tahun pidana penjara.

Sidang pembacaan vonis eks Gafatar di Pengadilan Negeri Jakarta Timur, Selasa (7/3/2017) siang, dibuka pukul 14.10 WIB.

Mushaddeg sejak awal mengatakan, persidangan ini penuh keganjilan. Tak heran kalau kemudian tim kuasa hukum menyatakan kecewa terhadap vonis bersalah terhadap tiga kliennya.

"Majelis hakim jelas menutup mata pada seluruh fakta persidangan" kata salah seorang pengacaranya, Pratiwi Febry, usai sidang.

Mereka juga menyebut putusan itu menunjukkan wajah institusi peradilan yang tidak independen.

"Ini merupakan ladang pembantaian bagi mereka yang minoritas dan tertindas," tegas Pratiwi.

Dalam sidang sebelumnya, Jaksa penuntut umum (JPU) Abdul Rauf mengatakan, terkait sangkaan penodaan terhadap agama, para petinggi Gafatar itu menyerukan kepada pengikutnya untuk tidak melakukan kewajiban dalam ajaran agama Islam.

"Mereka menganut ajaran Millah Abraham. Mereka menyampaikan kepada pengikutnya bahwa salat, puasa, zakat itu belum saatnya. Karena menurut mereka saat ini masih zaman jahiliyah," ujar Rauf.

Ihwal sangkaan makar, lanjut Rauf, organisasi tersebut telah mendeklarasikan Negeri Karunia Tuan Semesta Alam Nusantara.

Deklarasi itu sama dengan berupa sebuah pengakuan negara yang dibentuk kelompok Gafatar.

Editor: Alza Munzi
Sumber: BBC Indonesia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved