Kapolri Sarankan Penjahat Mabuk Jangan Ditembak Tapi Dikarate Biar Tak Diperiksa Komnas HAM

tugas polisi adalah melawan kejahatan, bukan orangnya, sehingga dalam setiap menangani kejahatan, pelaku diupayakan untuk dilumpuhkan

Kapolri Sarankan Penjahat Mabuk Jangan Ditembak Tapi Dikarate Biar Tak Diperiksa Komnas HAM
TribaratanewsPoldaJatim.com
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian melakukan kunjungan kerja (kunker) ke Jember, Jawa Timur, Senin (27/2/2017), terkait pemberangkatan Napak Tilas mahasiswa STIK angkatan 74 tahun 2017. 

Laporan Wartawan KOMPAS.com, Syahrul Munir

BANGKAPOS.COM - Setiap anggota Polri wajib memiliki postur tubuh yang ideal dan kemampuan bela diri tangan kosong seperti yang disampaikan oleh Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian.

Pasalnya, menurut Tito tugas polisi adalah melawan kejahatan, bukan orangnya, sehingga dalam setiap menangani kejahatan, pelaku diupayakan untuk dilumpuhkan bukan dimatikan.

Hal itu dikatakan Tito saat membuka Kejuaraan Nasional Karate Institut Karate-Do Nasional (Inkanas) Piala Kapolri VII 2017 yang digelar di GOR Pandanaran, Wujil, Kabupaten Semarang, Kamis (9/3/2017).

Tito mengatakan, karate mempunyai arti yang sangat banyak bagi Polri, tidak semata-mata untuk prestasi saja, melainkan juga untuk membentuk jiwa disiplin.

Kemampuan beladiri bagi anggota Polri penting untuk memperkuat kemampuan penggunaan kekuatan tangan kosong dan senjata tidak mematikan dalam melumpuhkan pelaku kejahatan.

"Jadi kalau tidak perlu, tidak perlu digunakan kekuatan yang mematikan. Jangan sampai orang baru mabuk sedikit, terus ditembak mati, kasus nantinya. Orang yang mabuk lumpuhkan dengan karate, jadi tidak perlu diperiksa oleh Komnas HAM lagi," ujarnya.

Menurut Tito, penggunaan bela diri tangan kosong dan penggunaan senjata tidak mematikan diakui belum tersosialisasi secara baik di lingkungan kepolisian.

Ia berharap pada anggotanya agar terus meningkatkan kemampuan tersebut.

"Setiap anggota Polri diwajikan untuk meningkatkan kesamaptaan dan bela diri, tujuannya adalah agar kemampuan mereka bisa melumpuhkan tanpa mematikan. Jadi pengggunaan senjata digunakan pada saat yang sangat penting sekali ketika ada ancaman terhadap petugas maupun masyarakat," tandasnya.

Pada kesempatan tersebut, Tito juga menegaskan agar anggotanya tidak kelebihan berat badan karena akan sulit bergerak jika harus melumpuhkan pelaku kejahatan.

Tak boleh ada polisi gendut.

"Anggota polisi tidak boleh gendut-gendut. Kalau gendut tidak bisa mengejar tersangka lari. Semua harus ramping agar bisa kejar tersangka. Jangan tembak dulu," pungkasnya.

Editor: Hendra
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved