Selasa, 14 April 2026

Beginilah Nasib Petani Karet: Gula Kopi Habis Terpaksa Ngutang Dulu

Begitu juga dengan biaya hidup sehari-hari, hanya mengandalkan hasil dari menyadap karet itu saja.

Editor: Hendra

Laporan Wartawan Bangka Pos Riyadi

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Nasib petani karet, apalagi yang berpenghasilan rendah, tidak tahu harus berbuat apa lagi, seolah hanya tergantung dari hasil sadapan karetnya.

Begitu juga dengan biaya hidup sehari-hari, hanya mengandalkan hasil dari menyadap karet itu saja.

Masih mending jika cuaca bagus, bisa menyadap karet dengan baik dan bisa menikmati hasilnya, meskipun hanya sedikit.

Tapi kalau sudah menyadap karet, mendadak hujan dan getahnya belum waktunya diangkat, secara otomatis petani karet akan kehilangan uang.

Kondisi seperti itu dialami oleh Ripin (72) warga Desa Pangkalniur Kecamatan Riausilip Kabupaten Bangka.

Dalam seminggu, hanya empat hari saja bisa menyadap karet, karena tidak mungkin pohon karetnya akan disadap setiap hari.

"Empat hari ngaret, hasilnya sekitar 30 an kilo, itu kalau nggak kena hujan. Dari 30 an kilo, duitnya ya sekitar Rp 200 ribu lebih sedikit, itu untuk harga karet sekarang (rata-rata Rp 7.600 per kilo), jadi kalau sebulan hasil dari ngaret ya Rp 800 an ribu lebih sedikit lah. Kira-kira menurut ikak (kamu wartawan), duit Rp 800 ribu cukup dak unuk makan sebulan, kita menghidupi satu istri dan tiga anak," kisah Ripin Selasa (14/3/2017).

Ripin mengisahkan, hasil dari ngaret empat hari (dalam satu minggu) kalau di jual rata-rata Rp 200 ribu. Hasil itu habis hanya untuk beli beras, gula, kopi, lauk, sayur dan lain-lain.

Terkadang beli gula kopi saja, harus dibatasi jumlahnya, khawatir uang tidak cukup untuk kebutuhan lainnya.

"Kalau gule kupi (gula kopi) habis, ya terpaksa berhutang dulu di toko, bayarnya nanti pas jual karet di minggu sekali lagi (minggu depannya), ya ini bukannya nggak bersyukur, hanya kalau dihitung-hitung ketemunya ya seperti itu yang kami alami, ya karena kondisi kami begini, ya kami ikhlas apa adanya," kisah Ripin.

Menurut Ripin, Rp 200 ribu lebih sedikit, untuk jatah makan satu keluarga (suami istri dan tiga anak) selama seminggu tidaklah cukup.

Sumber: bangkapos.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved