LPDB Sudah Jalin MoU dengan Dua Pabrik Besar Harga Minimal Ubi Kasesa Rp 800 per Kg

Kemas Danial mengajak masyarakat jangan patah semangat menanam ubi kasesa.

LPDB Sudah Jalin MoU dengan Dua Pabrik Besar Harga Minimal Ubi Kasesa Rp 800 per Kg
bangkapos.com/Nurhayati
Kemas Danial 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Nurhayati

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB), Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Kemas Danial mengajak masyarakat jangan patah semangat menanam ubi kasesa.

Kendati harga ubi kasesa saat ini rendah Rp 200 per kilogram, namun ke depan harga ubi kasesa lebih tinggi, karena LPDB sudah bekerjasama dengan dua pabrik besar tapioka di Kenanga dan Puding Besar.

Selain itu juga para petani bisa bantuan permodalan untuk menanam ubi kasesa melalui pinjaman lewat dana bergulir LPDB melalui perbankan yang bunga lebih rendah dan pembayarannya bisa dilunasi petani setelah panen.

"Sekarang kami dari LPDB telah menandatangi permodalan melalui BPRS sebesar Rp 50 milyar khusus untuk memberikan permodalan kepada petani singkong. Dua hari lalu ada berita harga singkong Rp 200 perkilogram. Bahwa melalui LPDB ini singkong ini akan dibeli oleh dua pabrik besar yang ada di Kabupaten Bangka ini seharga minimal paling paling kecil Rp 800 perkilogram. Artinya sudah ada MOU kami baik dengan pabrik ataupun dengan produsen dalam hal ini petani ubi," jelas Danial kepada bangkapos.com, Minggu (26/3/2017) di Restoran M2M Sungailiat.

Namun jika harga ubi kasesa di pasaran tinggi maka harga ubi kasesa yang dijual petani ke pabrik melalui kerjasama dengan LPDB juga akan tinggi. "Bukan berarti harus dibeli dengan harga Rp 800, kalau harga tinggi tetap tinggi dibeli," tegas Danial.

Untuk itu, ia akan menjalin kerjasama dengan pihak media guna mengembangkan pertanian dan UMKM di Kabupaten Bangka melalui perbankan dan LPBD.

"Rubrik di koran yang mungkin setiap hari atau setiap minggu menceritakan bagaimana menaikan pertumbuhan ekonomi UMKM yang ada di Bangka induk ini bisa menopang pertumbuhan ekonomi. Melalui jalur inilah harapan saya bahwa kita bisa berkomunikasi intensif ke masyarakat yang membutuhkan informasi pendampingan dalam menumbuhkan usaha mereka khususnya yang berkaitan dengan UKM," jelas Danial.

Oleh karena itu ia menilai perlu adanya informasi yang riil agar petani agar tetap semangat menanam ubi kasesa. Menurutnya jika melalui perorangan maka bisa saja ubi kasesa dibeli dengan harga murah.

"Inilah yang ingin saya sampaikan, harga yang kami patok Rp 800 ini telah kami lakukan penandatangan ketiga pihak," kata Danial.

Ia berharap bisa membangkitkan motivasi para petani ubi kasesa karena pabrik tapioka jika tidak didukung oleh para petani ubi kasesa juga bisa gulung tikar walaupun harga ubi di Lampung murah maka butuh dana yang besar untuk biaya pengirimannya.

Menurutnya, prospek ubi kasesa cerah karena investor berani membangun pabrik besar. Apalagi pasca penambangan timah ini dengan ada infrastuktur yang sudah dibangun oleh pabrik tapioka, maka membutuhkan bahan baku.

"Bahan baku ini opportunity (peluang-red) untuk masyarakat bisa berkebun. Pabrik yang begitu besar yang kapasitasnya hampir 1.800 ton perjam. Inikan besar," ungkap Danial.

Untuk itulah LPDB berani membiayai petani memberikan permodalan untuk menanam ubi kasesa karena ada pabrik besar yang siap menampung hasil panen petani.

"Inilah kenapa kami fokus kepada ubi," tegas Danial.

Penulis: nurhayati
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved