Breaking News:

Kisah Nyata Veteran Perang Bertemu Suku Mante: Tumit di Depan, Larinya Kencang

Bagian jari kaki justru di belakang. Sementara tumit berada di depan. Larinya kencang. Di tangannya selalu ada senjata berbahan kayu

Editor: Iwan Satriawan
Serambi indonesia
Ilustrasi 

Kata kakek saya, mereka melewati jalur Terangon, Gayo Lues. Kalau dari Blangpidie, jalur tembus ke Gayo tersebut ada di Ie Mirah, Babahrot. Sesungguhnya jalur tersebut tidak aman.

Hutan Aceh di sepanjang jalur tersebut, kata kakek hidup berbagai jenis hewan liar.
Dalam perjalanannya, mereka sering bertemu dengan harimau, gajah, badak, dan ular yang melintasi jalan. Menariknya, tak sekalipun mereka diganggu.

Saat berpapasan dengan binatang yang ada, khususnya gajah dan harimau, biasanya mereka berhenti. Menunggu sampai nekpergi. Istilah untuk dua binatang itu.

Bertemu Mante
Selain kerap berhadapan dengan binatang, kakek juga mengaku sering bertemu dengan Suku Mante. Katanya, Mante bertubuh kecil. Kakinya terbalik.

Bagian jari kaki justru di belakang. Sementara tumit berada di depan. Larinya kencang. Di tangannya selalu ada senjata berbahan kayu. Lebih pas disebut pemukul.

Mereka tak pernah bisa berhadap-hadapan. Yang ada hanya jejaknya yang lucu. Karena cap tumitnya di depan. Kejadian itu tidak sekali saja.

Dari cerita kakek, beliau setidaknya pernah bertemu selama tiga kali. Selama itu pula “Mante” lari tunggang langgang ke dalam hutan.

Dipercayai atau tidak, kata kakek Mante tersebut memang hidup dalam hutan. Dia berpindah-pindah sesuai dengan ketersediaan makanannya.

Kisah itu diceritakan oleh beberapa temannya yang lain. Katanya sempat ditemukan bekas pembakaran dan peralatan masak di tengah-tengah hutan.

Bentuknya tidak biasa. Terbuat dari kayu dan batu. Soal itu, cerita kakek tidak spesifik.
Kisah yang dituturkan kakek kepada saya memang tidak tercatat secara ilmiah. Namun istilah Mante di Aceh Selatan-Abdya setau saya tak asing.

Dalam kehidupan sehari-hari, nenek dan perempuan seusianya sering menggunakan istilah Mante sebagai bahan cibiran untuk anak cucunya yang seolah-olah tak pernah melihat sesuatu yang baru.

Baik itu merujuk pada barang tertentu atau daerah tertentu. “Ka saba hai neuk. Bek lagee Mante han tom kalon sapeu,” yang bermakna sabarlah sedikit, jangan seperti Mante yang nggak pernah melihat apapun.

Penggunaan istilah itu bisa jadi merujuk pada keberadaan suku tersebut di tengah-tengah hutan yang selalu menghindar jika bertemu orang. Data faktual mengenai luas hutan Aceh mungkin masih diperdebatkan.

Verifikasi luas hutan Aceh ini memang bisa berubah baik factor kepentingan pemerintah sendiri, investor, maupun faktor rill seperti perubahan alam dan iklim.
Kalau kita ambil saja rujukan pemerintah sesuai SK Menhut No.170/KPTS-II/2000, luas hutan Aceh mencapai 3.549.813 hektare. Terdiri dari 1.066.733 hektare hutan konservasi, 1.844.500 hektare hutan lindung, 37.300 hektare hutan produksi terbatas, dan 601.280 hektare hutan produksi tetap terbatas.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved