Breaking News:

Kisah Nyata Veteran Perang Bertemu Suku Mante: Tumit di Depan, Larinya Kencang

Bagian jari kaki justru di belakang. Sementara tumit berada di depan. Larinya kencang. Di tangannya selalu ada senjata berbahan kayu

Editor: Iwan Satriawan
Serambi indonesia
Ilustrasi 

Dari cerita kakek, beliau setidaknya pernah bertemu selama tiga kali. Selama itu pula “Mante” lari tunggang langgang ke dalam hutan.

Dipercayai atau tidak, kata kakek Mante tersebut memang hidup dalam hutan. Dia berpindah-pindah sesuai dengan ketersediaan makanannya.

Kisah itu diceritakan oleh beberapa temannya yang lain. Katanya sempat ditemukan bekas pembakaran dan peralatan masak di tengah-tengah hutan.

Bentuknya tidak biasa. Terbuat dari kayu dan batu. Soal itu, cerita kakek tidak spesifik.
Kisah yang dituturkan kakek kepada saya memang tidak tercatat secara ilmiah. Namun istilah Mante di Aceh Selatan-Abdya setau saya tak asing.

Dalam kehidupan sehari-hari, nenek dan perempuan seusianya sering menggunakan istilah Mante sebagai bahan cibiran untuk anak cucunya yang seolah-olah tak pernah melihat sesuatu yang baru.

Baik itu merujuk pada barang tertentu atau daerah tertentu. “Ka saba hai neuk. Bek lagee Mante han tom kalon sapeu,” yang bermakna sabarlah sedikit, jangan seperti Mante yang nggak pernah melihat apapun.

Penggunaan istilah itu bisa jadi merujuk pada keberadaan suku tersebut di tengah-tengah hutan yang selalu menghindar jika bertemu orang. Data faktual mengenai luas hutan Aceh mungkin masih diperdebatkan.

Verifikasi luas hutan Aceh ini memang bisa berubah baik factor kepentingan pemerintah sendiri, investor, maupun faktor rill seperti perubahan alam dan iklim.
Kalau kita ambil saja rujukan pemerintah sesuai SK Menhut No.170/KPTS-II/2000, luas hutan Aceh mencapai 3.549.813 hektare. Terdiri dari 1.066.733 hektare hutan konservasi, 1.844.500 hektare hutan lindung, 37.300 hektare hutan produksi terbatas, dan 601.280 hektare hutan produksi tetap terbatas.

Dalam praktiknya, pengelolaan hutan di Aceh belum efisien. Di banyak tempat, kita masih menemukan lahan-lahan yang tidak produktif. Tidak dikelola untuk pertanian dan perkebunan secara optimal, bahkan dibiarkan hingga berhutan lagi.
Di sepanjang pantai barat dan selatan Aceh, misalnya, banyak sekali areal hutan produksi yang dimanfaatkan.

Perambahan hutan
Sementara di tempat yang lain, perambahan hutan dilakukan secara massif baik oleh orang-orang lokal sendiri dengan memanfaatkan potensi kayu, maupun pihak pemerintah dengan dalih investasi.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved