Di Daerah Ini Jangan Coba-coba Tidur Di Kasur Kalau Tak Mau Terkena Masalah

Meski mampu membeli kasur, hampir semua warganya tidur hanya beralas tikar. Mereka meyakini jika pantangan itu dilanggar

Di Daerah Ini Jangan Coba-coba Tidur Di Kasur  Kalau Tak Mau Terkena Masalah
THINKSTOCK.COM
Ilustrasi 

RIWAYAT PANTANGAN
Versi yang agak masuk akal dikisahkan Sukarno, guru SMP di Gunungkidul yang pernah menelaah mitos Kasuran untuk tujuan penulisan skripsinya.

Menurutnya, pantangan tersebut berkait dengan krisis Kerajaan Mataram era Amangkurat I. Kisahnya berawal dari meletusnya kerusuhan di Mataram yang berujung pada pembantaian warga tahun 1648, yang menurut catatan De Graaf menelan korban hingga 6000 jiwa.

Konflik terjadi antara pihak loyalis raja versus para penentang. Pertikaian antar-kedua belah pihak berkembang menjadi perang dan pembunuhan gelap yang dilakukan oleh para telik sandi atau intelijen.

“Perang anta penguasa kerajaan ini tak hanya melibatkan fisik, namun juga adu ngelmu metafisik, termasuk penggunaan santet atau guna-guna,” papar Sukarno.

Salah seorang loyalis raja – sebagaimana tertulis dalam Wajah Tirani Mataram karya Wrasti Pradipta – adalah Ki Kamijora warga Dusun Joran (sekarang Kasuran), yang juga kawan seperguruan Amangkurat I saat menimba ilmu pada Ki Brayut, guru spiritual kerajaan era Sultan Agung.

Kamijora ditugaskan memimpin pasukan telik sandi untuk menghabisi lawan-lawan politik raja. Pihak penentang raja balik membalas dengan menebar beragam kekuatan supranatural ke seluruh penjuru kampung. Namun Ki Kamijora tidak berhasil dilumpuhkan karena keburu kabur.

Akhirnya pihak lawan mengancam,akan terus menyebarkan santet dan mengincar Ki Kamijora beserta semua warga yang tinggal di kampung itu.

Di lain pihak sebelum melarikan diri, Ki Kamijora berpesan kepada para pengikutnya agar tidak tidur dengan alas yang membuat jarak antara tubuh dengan lantai, untuk menghindari santet yang dikirim oleh pihak lawan.

Pesan Ki Kamijora itulah yang kemudian menjadi semacam sugesti berlarut. Secara berantai dan turun temurun diterjemahkan sebagai pantangan tidur menggunakan kasur.

Bagi masyarakat Dusun Kasuran, pantangan itu tidaklah terlalu menjadi beban. Justru yang sering membuat risih mereka adalah perlakuan berbau promo terhadap budaya mereka.

Pantangan tersebut terkesan dieksploitasi menjadi keunikan ranah wisata sehingga banyak orang penasaran mengunjungi dusun mereka. Ini seringkali justru mengganggu ketenangan hidup warga di situ. (*)

Editor: Iwan Satriawan
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved