Berita Advetorial

Sarasehan Budaya FISIP UBB Identifikasi Nilai Lokal Cegah Konflik

Mengangkat tema 'Pengembangan Nilai-nilai Lokal Sebagai Sarana Mencegah Konflik dan Distintegrasi Lokal',

Sarasehan Budaya FISIP UBB Identifikasi Nilai Lokal Cegah Konflik
istimewa
SARASEHAN -- Sarasehan Budaya yang dilaksanakan oleh FISIP UBB menghadirkan para budayawan, Kamis (30/03/2017) lalu. 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Rusaidah

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UBB menggelar membincangkan nilai-nilai lokal Bangka Belitung sebagai salah satu sarana potensial dalam rangka menjaga harmoni sosial melalui Sarasehan Budaya.

Acara yang dikemas dalam bentuk diskusi antara para budayawan dan kalangan generasi muda ini berlangsung di Puri 56 Pangkalpinang, Kamis (30/03/2017) lalu.

Mengangkat tema 'Pengembangan Nilai-nilai Lokal Sebagai Sarana Mencegah Konflik dan Distintegrasi Lokal', acara ini berlangsung dalam suasana yang dialogis dua kalangan beda generasi.

Tampak hadir dalam sarasehan tersebut beberapa budayawan, antara lain Dr (HC) Ibnu Hadjar, Azhar Zakaria, Basri Hasanah, Saat Thoyib, Sofyan Sauri, dan lain-lain. Sementara kalangan muda diramaikan oleh kehadiran para perwakilan BEM dari berbagai perguruan tinggi, organisasi kepemudaan, dan para akademisi.

Acara yang dipandu oleh Herdiyanti, Dosen Sosiologi ini menghadirkan tiga pemantik diskusi, yakni Muhammad Anshori yang mewakili unsur akademisi, Sukma Wijaya yang mewakili pemerhati budaya dari kalangan generasi muda, dan Husain Karim selaku Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Bangka Belitung.

Dekan FISIP UBB, Ibrahim dalam sambutannya saat mengantarkan diskusi mengatakan bahwa saat ini ada gempuran globalisasi, antara lain melalui teknologi, migrasi, perdagangan, dan media massa. Kearifan lokal mulai luntur, sehingga menurutnya amat penting mempertemukan kalangan tua dan muda untuk menjahit kembali mata rantai yang putus.

FISIP UBB ambil bagian sebagai bentuk tanggung jawab intelektual terhadap nilai lokalitas. Ibrahim menuturkan bahwa nilai lokal seharusnya menjadi penjaga peradaban lokal dan karenanya sudah seharusnya direvitalisasi dan diinternalisasi kembali.

Sementara itu, Muhammad Anshori mengatakan bahwa Bangka Belitung pada dasarnya kaya dengan nilai lokal yang luhur.

"Nganggung, Maras Taun, Rebo Kasan, Mandi Belimau, dan ragam permainan tradisional lokal pada dasarnya adalah refleksi dari perilaku harmonis antarwarga di Babel. Daerah ini sejak dulu kaya dengan budaya yang terajut secara harmonis. Percampuran berbagai nilai telah membentuk budaya lokal yang kaya dan dinamis. Tak ada tempat bagi potensi konflik di daerah ini karena toleransi merajutnya dengan indah sehingga menjadi mozaik kebudayaan", urai Anshori.

Pada kesempatan yang sama, Husain Karim yang juga mengetuai perkumpulan berbagai suku menegaskan bahwa semua potensi konflik di Bangka Belitung dapat diselesaikan dengan melibatkan para sesepuh adat dan agama.

Selaku Ketua Forum Pembauran Kebangsaan, ia menekankan bahwa di Bangka Belitung, potensi konflik dihindari dengan cara merawat kebersamaan, dialog, dan pendekatan kearifan, bukan pendekatan kekerasan.

Hal yang sama ditegaskan oleh Sukma Wijaya yang mengatakan bahwa kultur Babel sangat terbuka dan toleran. Karenanya Sukma berpandangan bahwa tidak ada tempat bagi intoleransi di Babel karena budaya lokal mengajarkan kesederhanaan, keterbukaan, dan kesantunan. (*)

Penulis: tidakada014
Editor: Hendra
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved