Senin, 4 Mei 2026

Penyidik KPK Disiram Air Keras

Dikriminalisasi hingga Siraman Air Keras, Novel Baswedan Ternyata Tak Pernah Absen Subuh

Hasan menyatakan Novel juga menjadi Wakil Bidang Dakwah dan Peribadahan Masjid Al Ihsan. Dia menyebut Novel merupakan orang yang

Tayang:
Editor: Iwan Satriawan
KOMPAS.com/NABILLA TASHANDRA
Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel baswedan di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan. 

BANGKAPOS.COM--Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan disiram air keras usai salat subuh berjamaah di masjid di sekitar rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (11/4/2017).

Imam Masjid Al Ihsan Abdurrahim Hasan menyatakan sosok Novel Baswedan adalah orang yang aktif dalam kegiatan masjid.

Dia juga menjadi salah satu pengurus masjid di kawasan Kelurahan Pegangsaan Dua, Kelapa Gading itu.

Hasan menyatakan Novel juga menjadi Wakil Bidang Dakwah dan Peribadahan Masjid Al Ihsan.

Dia menyebut Novel merupakan orang yang selalu hadir dalam salat Subuh berjamaah.

“Dia enggak pernah absen, kecuali kalau nangkap orang,” kata Hasan kepada CNNIndonesia.com, Selasa (11/4).

Novel Baswedan dirawat di rumah sakit karena disiram air keras.
Novel Baswedan dirawat di rumah sakit karena disiram air keras. (Twitter/ Fadjroel Rahman)

Hasan mengungkapkan Novel dikenal sebagai orang yang berani sehingga teror macam ini tak membuat langkahnya surut.

Novel, kata Hasan, juga dikenal aktif dalam kegiatan hari besar Islam, macam Idhul Fitri dan Idhul Adha.

Novel diketahui sering mengalami teror dari sejumlah kasus besar yang ditanganinya.
Novel selama ini menangani kasus-kasus besar yang ada di KPK.

Dia merupakan penyidik yang dianggap tidak pandang bulu dalam menangani kasus.

Pada Oktober 2012, sejumlah anggota Polri mendatangi gedung KPK untuk menjemput Novel, yang sudah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan penembakan terhadap pencuri sarang burung walet di Lampung pada 2004.

Penetapan tersangka itu dilakukan tak lama setelah Novel memimpin penggeledahan di Korlantas Polri.

Saat itu, Novel menjabat sebagai Kepala Satgas kasus simulator SIM yang menjerat Irjen Djoko Susilo, yang saat itu menjabat Kakorlantas.

Novel membantah memerintahkan penembakan terhadap pencuri sarang burung walet.

Kasus penembakan pencuri sarang walet itu terjadi saat Novel menjabat kepala satuan reserse kriminal di Polres Lampung.

Novel dianggap bertanggung jawab atas penembakan tersebut.
Kasus ini kembali mencuat pada pertengahan 2015.

Pada 1 Mei dini hari, Novel ditangkap di rumahnya di Kelapa Gading.

Novel terbebas karena tidak cukup bukti. Kejaksaan Agung menerbitkan surat keputusan penghentian penuntutan (SKPP) atas dugaan menganiaya seorang pencuri sarang burung walet hingga tewas pada 2004.

Selanjutnya, pada Kamis (23/3), Mantan Anggota Komisi II DPR RI Miryam S Haryani mengaku ditekan oleh Novel Baswedan dan dua penyidik KPK.

Akhirnya, Miryam mencabut keterangannya dalam berita acara pemeriksaan (BAP) yang mengaku membagi-bagikan uang dalam proyek e-KTP.

Novel juga mendapatkan Surat Peringatan 2 dari internal KPK, karena dianggap menghambat penyidikan.

Terakhir, Novel Baswedan diteror usai salat subuh berjemaah di masjid di sekitar rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Wajah penyidik senior KPK tersebut disiram air keras oleh seseorang yang tidak dikenal.
"Ya benar. Disiram (air keras, red) habis salat subuh tadi," ujar Laode M Syarief, salah satu pimpinan KPK, Selasa (11/4/2017).

Laode mengatakan, saat ini Novel masih dirawat di instalasi gawat darurat RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Seperti diketahui, Novel telah beberapa kali mendapat teror. Tahun lalu, Novel ditabrak mobil ketika sedang mengendarai sepeda motor menuju kantornya di Kuningan, Jakarta Selatan.

Lapor ke Bareskrim
Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Laode M Syarif meminta Bareskrim Polri segera menangkap dan mengusut pelaku, serta motif penyerangan dengan air keras kepada penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

Akibat penyerangan yang dialami Novel pagi tadi, Selasa (11/4/2017) mata dan keningnya mengalami luka bakar dan saat ini menjalani perawatan di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara.

"Kami akan melaporkan ke Mabes Polri supaya pelakunya bisa diusut tuntas," tegas Laode M Syarif.
Laode M Syarif juga meminta agar bukan hanya pelaku ‎penyerangan air keras yang diusut tapi juga aktor intelektualnya.

"Semuanya harus bisa diungkap secara terang benderang untuk memberikan efek jera pihak yang kerap mengintimidasi kerja-kerja aparat penegak hukum," tambah Laode M Syarif.

Seperti diberitakan sebelumny, penyidik KPK Novel Baswedan diteror usai salah subuh berjemaah di masjid di sekitar rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Wajah penyidik senior KPK tersebut disiram air keras oleh seseorang yang tidak dikenal.

"Ya benar. Disiram (air keras, red) habis salat subuh tadi," ujar Laode.
Laode mengatakan, saat ini Novel masih dirawat di instalasi gawat darurat RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Kronologi
Novel Baswedan diteror dua orang pengendara motor tak dikenal.
Dia disiram air keras seusai salat subuh di masjid Al Ihsan, Pegangsaan Dua, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Novel selesai salat subuh sekitar pukul 05.10 WIB. Saat itu, dia berada di depan masjid Al Ihsan.
Tiba-tiba Novel dihampiri oleh dua orang laki-laki tidak dikenal.

"Langsung menyiram dengan menggunakan air keras dan mengenai mukanya," ujar Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Raden Prabowo Argo Yuwono, Selasa (11/4/2017).

Air keras itu, menyebabkan Novel bengkak di kelopak mata bagian bawah kiri dan berwarna kebiruan.
Serta bengkak di dahi sebelah kiri dikarenakan terbentur pohon.

"Selanjutnya pelaku melarikan diri. Korban dilarikan ke Rumah Sakit Mitra Keluarga, Kelapa Gading guna pertolongan dan saat ini dalam perawatan di kamar nomor 508," ujar Argo.
Kasus ditangani Kepolisian Sektor Kelapa Gading.
Polisi akan melakukan olah tempat kejadian perkara di masjid Al Ihsan.

"Kemudian, mencari saksi-saksi, bukti, dan informasi di TKP," ujar Argo.
Anggota Komisi III DPR Arsul Sani meminta aparat kepolisian segera mengusut kasus kekerasan fisik yang dialami penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan.
Menurut Arsul, aparat penegak hukum harus memberikan prioritas penanganan kasus tersebut.

"Apalagi yang dialami NB (Novel Baswedan) bukan kejadian yang pertama. Ini perbuatan ‘terorisme’ terhadap penegak hukum yang harus ditangani secara serius," kata Arsul dalam pesan singkat kepada Kompas.com, Selasa (11/4/2017).
Kekerasan fisik itu terjadi di dekat masjid yang berada di sekitar kediaman Novel di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Novel disiram air keras oleh orang tidak dikenal.

Selain pengusutan, Arsul meminta, KPK membenahi kembali manajemen prosedur operasional standar dalam mengamankan jajaran penegak hukumnnya.
Baik itu penyelidik, penyidik, maupun jaksa penuntut umum.
"Sudah saatnya KPK me-Review kembali SOP pengamanan jajaran penegak hukumnya," ujar Arsul Sani.

Untuk diketahui, pasca-serangan fisik tersebut, Novel kini tengah menjalani perawatan di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading. (Cnnindonesia/tribuntimur.com )

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved