Breaking News:

Kisah Pernikahan Muslim dan Kristen di Mesir yang Dianggap Tabu, Padahal 7 Tahun Dilarang Bertemu

Pengeboman dua gereja Koptik yang menewaskan puluhan orang pada 9 April lalu menggarisbawahi potensi bahaya yang dialami minoritas Kristen di Mesir.

Editor: Alza Munzi
BBC
Pengantin wanita Mesir 

BANGKAPOS.COM - Pengeboman dua gereja Koptik yang menewaskan puluhan orang pada 9 April lalu menggarisbawahi potensi bahaya yang dialami minoritas Kristen di Mesir.

Namun, di kalangan kelompok etnis Nubian yang hidup di bagian selatan Mesir, umat Muslim dan Kristen hidup berdampingan secara damai.

Berikut laporan Nicola Kelly yang menghadiri pernikahan sepasang pengantin beda agama di Kota Aswan.

"Semua orang selalu menasihati saya untuk menikahi gadis dari komunitas saya. Tapi itu mustahil. Saya tidak bisa jauh darinya," kata Akram sembari mengerjapkan mata.

Ucapan itu keluar dari mulut Akram beberapa jam sebelum dia menghadiri akad nikah di masjid sebuah desa di bantaran Sungai Nil.

Akad nikah Akram bukan upacara pernikahan biasa. Akram akan mengucapkan ikrarnya sebagai mempelai pria di masjid, sedangkan Sally—sang mempelai perempuan yang beragama Kristen—mendaraskan doa secara pribadi di rumah.

"Kami adalah dua mempelai pertama yang menikah di luar agama kami. Itu sangat sulit, khususnya bagi orangtua saya," kata Akram.

Selama tujuh tahun, Akram dan Saly dilarang bertemu oleh orangtua mereka masing-masing.

Bahkan, anggota komunitas, pemuka agama, dan teman-teman berupaya mencegah mereka berjumpa. Namun, sepasang kekasih itu masih bisa menyiasati cara untuk bersua.

"Kami sepakat menikah pada malam hari sehingga keluarga kami tidak malu," kata Akram.

Halaman
1234
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved