Kisah Pohon Apel dan Cinta Orangtua untuk Anak yang Tak Hilang Dimakan Waktu

Kasih sayang dan cinta orangtua terhadap anak tak akan pernah lekang dimakan waktu

Kisah Pohon Apel dan Cinta Orangtua untuk Anak yang Tak Hilang Dimakan Waktu
Shutterstock
Ilustrasi 

Pohon apel itu menyahut, “Duh, maaf aku pun tak punya uang, tetapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. Kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu.”

Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan penuh suka cita.

Namun, setelah itu anak lelaki itu tak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Bulan berganti tahun. Anak lelaki itu sekarang sudah menjadi dewasa dan menikah.

Suatu hari lelaki dewasa itu datang lagi. Pohon apel yang telah menjadi pohon apel raksasa sangat senang melihatnya datang.

“Ayo bermain-main denganku lagi,” kata pohon apel. “Aku tak punya waktu,” jawab lelaki itu.

“Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?”

“Duh, maaf aku pun tak memiliki rumah. Tapi, kau boleh memotong seluruh cabang-cabangku untuk membangun rumahmu,” kata pohon apel.

Kemudian lelaki itu memotong cabang-cabang pohon apel, mengambil semua cabangnya dan pergi dengan gembira.

Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat lelaki itu senang, tapi seperti biasanya lelaki itu tak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Halaman
1234
Editor: Alza Munzi
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved