Kisah Pohon Apel dan Cinta Orangtua untuk Anak yang Tak Hilang Dimakan Waktu

Kasih sayang dan cinta orangtua terhadap anak tak akan pernah lekang dimakan waktu

Kisah Pohon Apel dan Cinta Orangtua untuk Anak yang Tak Hilang Dimakan Waktu
Shutterstock
Ilustrasi 

“Maaf anakku,” kata pohon apel itu. “Aku sudah tidak memiliki buah apel lagi untukmu.”

“Tak apa. Aku pun sudah tak memiliki gigi untuk menggigit buah apelmu,” jawab lelaki tua itu.

“Aku juga tak memiliki batang dan dahan yang bisa kau panjat,” kata pohon apel.

“Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu,” jawab lelaki itu.

“Aku benar-benar tak memiliki apa-apa lagi yang bisa aku berikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini,” kata pohon apel itu sambil menitikkan air mata.

“Aku tak memerlukan apa-apa lagi sekarang,” kata lelaki tua itu perlahan.

“Aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu.”

“Ooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahatlah dengan tenang.”

Maka berbaringlah lelaki tua itu dipelukan akar-akar pohon.

Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Itulah cinta orangtua yang sangat luar biasa pada anak-anaknya.

Tidak akan pernah lekang ataupun berkurang dimakan usia.

Orangtua kita lebih dari pohon apel tua, mereka sungguh mempunyai hati dan cinta buat kita, dari hari demi hari, tahun demi tahun.

Mereka ada buat kita, sampai mereka menutup mata.

Editor: Alza Munzi
Sumber: Intisari
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved