Harga Karet dan Lada Babel Turun, Ini Penjelasan Dinas Pertanian Bangka

Lada, karet dan kelapa sawit merupakan komoditi unggulan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejak dulu.

bangkapos.com/Edwardi
Subhan 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Edwardi

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Lada, karet dan kelapa sawit merupakan komoditi unggulan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sejak dulu.

Menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bangka melalui Kepala Bidang Perkebunan, Subhan mengungkapkan, terkait dengan turunnya harga beberapa komoditi pertanian karena pengaruh harga minyak dunia, dan lainnya.

"Beberapa produk kita di tahun 2017 ini mengalami beberapa penurunan harga seperti karet yang turun drastis, lada juga, termasuk tandan buah segar sawit," kata Subhan, Rabu (13/6/17) melalui rilis Pemkab Banga di Sungailiat.

Diuraikan Subhan, terkait masalah karet, dari hasil rapat koordinasi di provinsi beberapa waktu yang lalu, penurunannya sudah global dan tergantung harga pasar dunia yang tidak bisa dielakkan.

Untuk itu lanjut Subhan, perlu adanya inovasi dalam mengoptimalkan harga lada dan karet menjadi keuntungan untuk petani dan diharpakan bisa meningkatkan kualitas serta mutu karet dan lada meningkat.

"Sekarang ini tergantung kualitas karetnya, masih ada petani yang menggunakan tawas sehingga kualitas karet yang dihasilkan belum maksimal dibandingkan dengan menggunakan asam semut, jika menggunakan tawas sekitar Rp 5000 hingga Rp 6000, tapi asam semut bisa Rp 9000," jelasnya.

Dikatakannya lagi, karet yang menggunakan tawas sangat berbda dengan menggunakan asam semut.

"Elastisitas menggunakan tawas cepat putus namun jika menggunakan asam semut elastisitasnya sangat tinggi di atas 70 hingga 90 persen," terang Subhan.

Untuk itu, Subhan mengharapkan masyarakat dapat meningkatkan produksi, dengan cara penggunakan bibit unggul, perawatan yang unggul, sehingga produksi atau produktivitasnya meningkat.

Selain itu juga dengan meningkatkan produksi olahan karet yang ada di pabrik di Bangka Belitung seperti di Karini dan Fajar Berseri.

Untuk itu, Subhan mengharapkan, masyarakat jangan resah, karena untuk sekarang ini penurunan harga seperti karet dan lada, termasuk juga tandan buah segar memang mengalami penurunandan diharapkan masyarakat bisa menggunakan bibit unggul.

"Yang banyak sekarang ini, masyarakat masih bukan menggunakan bibit unggul, lahan yang tidak luas, dan masyarakat kita ini bukan kebun karet, tapi hutan karet, masih menggunakan klon tidak unggul dan perawatan juga tidak unggul,"katanya.

Penulis: edwardi
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved