Harga Lada Bakal Naik, Pemprov Babel Bakal Datangkan Pembeli dari Belanda dan Italia

Harga lada saat ini hanya sekitar Rp 60.000 hingga Rp 80.000 per kilogram menjadi permasalahan yang rumit

ist
Ilustrasi: Petani sedang menjemur lada di bawah teriknya matahari 

Laporan Wartawan Bangka Pos, Edwardi

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Harga lada saat ini hanya sekitar Rp 60.000 hingga Rp 80.000 per kilogram menjadi permasalahan yang rumit bagi semua stakeholder ,termasuk juga masyarakat petani lada.

Kepala Bidang Perkebunan Kabupaten Bangka, Subhan mengatakan jika dilihat dari analisa dengan usaha tani, dengan harga lada sekarang ini, produktivitas lada sekarang ini memang tidak mengalami keuntungan.

"Biaya, sarana produksinya sangat tinggi untuk lada ini, sehingga dengan harga yang sekarang ini sangat merugikan petani," ungkap Subhan, Kamis (13/6) di Sungailiat.

Untuk itu Subhan menjelaskan, untuk mengatasi permasalahan harga ini, ada beberapa hal yang harus diatasi.

"Sekarang ini dengan dengan bulan puasa, mau lebaran, dan lagi musim panen lagi, mau gak mau petani bakal menjual hasil panennya, harus dicari solusinya untuk membantu petani lada ini. Sekarang ini kita harapkan masyarakat dapat menahan dengan tidak menjual hasil panenya, insyaallah nanti bakal naik lagi," ujarnya.

Subhan juga mengatakan, ada kemungkinan harga lada ini bakal naik kembali, karena ada wacana pemerintah provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan mendatangkan pembeli dari Belanda dan Italia.

"Mereka akan datang ke kita, jika cocok, mereka akan membeli langsung lada putih kita atau Muntok White Pepper," jelasnya.

Untuk itu Subhan berharap adanya peningkatan produksi lada di Bangka Belitung ini dengan cara menanam lada sebanyak-banyaknya.

"Kalau bisa sebanyak-banyaknya, kalau mampu, kalau sedikit tapi terurus, penggunaan bibit unggul, tahan penyakit, perawatan secara unggul, dengan harapan produksi meningkat yang bagus kualitasnya, harganya juga meningkat," kata Subhan.

Selain itu juga Subhan menyarankan untuk perawatan lada tidak seperti dulu lagi, yakni tanam, pupuk beberapa kali, dan sederhana mungkin sudah bisa, namun sekarang ini sudah berbeda, banyak hama penyakit, iklim yang tidak menentu dan ekstrim menyebabkan tanaman lada juga tidak tahan hama penyakit.

"Perlu budidaya tanaman lada ini secara intensif, pemberantasan hama penyakitnya menggunakan agen-agen hayati dengan hama-hama terpadu, sehingga lingkungan aman, produksi meningkat," katanya.

Penulis: edwardi
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved