Menelisik Pesawat Pembunuh MiG-21 untuk Lawan Belanda di Papua, Tapi Tak Pernah Digunakan

Meski kedigdayaannya telah padam setengah abad lalu, legenda MiG-21 masih hidup sampai sekarang.

Menelisik Pesawat Pembunuh MiG-21 untuk Lawan Belanda di Papua, Tapi Tak Pernah Digunakan
net
Dirancang untuk membunuh pembom B-52, MiG-21 ternyata juga sanggup menumbangkan F-4 Phantom II. 

Langkah ini rupanya diambil untuk mengapresiasi perjuangan Dr. Ir. Oetarjo Diran dan Dr. Ken Liem Laheru yang begitu gigih mendirikan Pendidikan Teknik Penerbangan di ITB (kini Jurusan Teknik Penerbangan di FTMD).

Demi memajukan Indonesia, mereka sampai-sampai meninggalkan jabatan bergensinya di Jerman.

Jet yang satu ini amat ditakuti Barat. Tak ayal keberadaannya pun sangat dieman-eman.

“Bagaimana tidak? Jika Departemen Pertahanan AS saja harus susah payah ingin mencurinya, masak pemberian yang amat berharga ini kami sia-siakan?” ujar sumber Angkasa.

Sayangnya, ketika itu ITB belum punya tempat yang dianggap cocok.

Sehingga untuk sementara waktu terpaksa ngendon di hanggar Lipnur (kini PT Dirgantara Indonesia).

Di sana, supersonik sayap delta ini selanjutnya di antaranya dirawat oleh Prof. Dr. Harijono Djojodihardjo dan Dr. Said D. Jenie, dosen teknik penerbangan lulusan Massachussetts Institute of Technology, AS.

Keunggulan dan kelemahan

Kala itu kisah keunggulan MiG-21 beranjak mendunia.

Itu karena jet yang sejatinya dirancang Mikoyan-Gurevich, Rusia, untuk membunuh pembom strategis andalan AS, B-52 Stratofortress ini, ternyata juga mampu membabat jet unggulan AS seperti F-4 Phantom II, F-104 Starfighter dan F-105 Thunderchief.

Halaman
1234
Editor: Alza Munzi
Sumber: Angkasa
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved