Menelisik Pesawat Pembunuh MiG-21 untuk Lawan Belanda di Papua, Tapi Tak Pernah Digunakan

Meski kedigdayaannya telah padam setengah abad lalu, legenda MiG-21 masih hidup sampai sekarang.

Menelisik Pesawat Pembunuh MiG-21 untuk Lawan Belanda di Papua, Tapi Tak Pernah Digunakan
net
Dirancang untuk membunuh pembom B-52, MiG-21 ternyata juga sanggup menumbangkan F-4 Phantom II. 

Hal inilah yang membuat penerbangnya harus kerja keras “memasukkan” kembali musuhnya dalam garis bidik.

Di FTMD sendiri, MiG-21 berkode 2158 ini baru benar-benar berfungsi setelah pihak ITB berhasil menyiapkan sebuah laboratorium yang cukup nyaman pada 1998.

Di bodi samping pesawat yang telah dicat ulang, selanjutnya ditulis: Iron Bird untuk sistem dasar pesawat udara, yang mencakup sistem kendali hidro-mekanikal, sistem elektrik, sistem roda pendarat, sistem propulsi dan sistem avionika.

“Teknologinya memang sudah berumur, namun tetap layak untuk jadi alat peraga bagi keilmuan aeronotika yang diberikan mulai dari tingkat pertama hingga terakhir. Keilmuan ini mencakup mekanika, termodinamika, aerodinamika, kinematika hingga teknik perancangan pesawat,” ujar Kepala Program Studi Aeronotika/Astronotika, Dr. Ir. Toto Indriyanto kepada Angkasa, pertengahan Mei 2017 di Bandung.

Inlet cone

Bagi Angkasa sendiri, tak lengkap kiranya jika tak melengkapi kisahnya dengan pengakuan penerbang AURI atas pesawat yang mampu melesat lebih dari dua kali kecepatan suara ini.

Mereka sepakat menyebutnya jet pemburu paling mutakhir di zamannya.

“Kemudinya sangat sensitif dan pesawat ini terbang lebih cepat dari yang saya perkirakan. Tapi, lama terbangnya, walau dengan drop tank, amat singkat. Cuma 1 jam 40 menit. Dengan begitu kita harus tahu bagaimana trik menerbangkannya,” ungkap Marsda (Pur) Roesman, sesepuh AURI yang pernah dipercaya jadi komandan skadron pencegat sayap delta ini.

mig-21
Inlet Cone yang merupakan bagian khas dari MiG-21, selanjutnya juga terlihat di moncong mesin SR-71 Blackbird.

“Terbang lurus-lurus saja, tidak perlu belok kiri-kanan, daripada tidak bisa pulang. Untuk itu kita memang harus bisa lebih dulu menghitung di titik mana pesawat musuh yang akan dicegat,” tambahnya tentang trik itu kepada Angkasa.

Indonesia mendatangkan jet-jet ini pada 1962, sebagai bekal untuk menghadapi kekuatan militer Belanda dalam kampanye Trikora.

Ketika itu bersama rombongan pembom Tu-16 serta MiG-15, MiG-17 dan MiG-19, pemerintah membeli 22 unit dari tipe MiG-21 F-13 dan MiG-21U.

Namun, pesawat-pesawat ini tak pernah benar-benar turun berperang karena Belanda akhirnya bersedia mundur setelah didesak oleh PBB.

Lalu, adakah keunggulan MiG-21 yang kemudian diadopsi pesawat-pesawat berikutnya?

Ada, bahkan tak sekadar pesawat, tetapi juga rudal. Kelebihan dimaksud adalah inlet cone yang bentuknya amat khas.

Kerucut metal di cerobong masukan udara ini rupanya tidak dibuat untuk memperindah sosoknya, melainkan memang ada maksudnya.

Inlet cone bisa digerakkan maju-mundur tak lain untuk menyetel kecepatan mesin, terutama saat kecepatannya menembus Mach 1.

Hal ini dimungkinkan karena maju-mundur inlet cone akan menentukan besar kecilnya pasokan udara ke ruang pembakaran mesin.

Inlet cone selanjutnya diterapkan pada pesawat jet dan rudal supersonik, seperti SR-71 Blackbird dan P-800 Oniks/Yakhont.

Nah, ketika sejumlah staf pengajar FTMD ikut dilibatkan dalam proyek KFX/IFX dengan Korea Selatan, mestinya ada pula seuntai transfer teknologi dari sang legenda yang ikut terbawa dalam perancangan jet tempur masa depan Indonesia-Korea Selatan ini.

Walau terkesan samar, sudahlah jelas bahwa mereka adalah ilmuwan yang pernah berkutat di laboratorium FTMD

 
Editor: Alza Munzi
Sumber: Angkasa
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved