Orangtua Asuh Pingsan Tak Rela Serahkan Anak Adopsi ke Dinas Sosial

Kepolisian Resort Simalungun menyerahkan empat anak yang terselamatkan dalam praktik dugaan perdagangan orang, adopsi ilegal.

Orangtua Asuh Pingsan Tak Rela Serahkan Anak Adopsi ke Dinas Sosial
tribun medan/dedy
Lamrin Tamba histeris melepas bayi laki-laki yang diadopsinya ke pihak Dinas Sosial Simalungun. 

BANGKAPOS.COM, SIMALUNGUN - Suasana sepi di Mapolsek Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun tiba-tiba jadi riuh. Histeria orangtua, yang diduga mengadopsi anak secara ilegal, memecah keheningan.

Mereka ada yang menangis, meraung-raung, meratap, bahkan ada ibu yang pingsan, saat terpaksa menyerahkan bayi mereka kepada pihak Dinas Sosial Simalungun, Sumatera Utara, Senin (7/8/2017).

Kepolisian Resort Simalungun melalui Polsek Tanah Jawa menyerahkan empat anak yang terselamatkan dalam praktik dugaan perdagangan orang atau human trafficking, adopsi ilegal ke Dinas Sosial. Keempat anak diserahkan setelah pihak Dinas Sosial memberi pengarahan di Mapolsek Tanah Jawa.

"Mohonlah Pak, mohonlah Buk biar, kami saja yang mengasuh mereka. Kami selama ini gak tahu hukum. Ke manalah caranya bisa kami bertemu lagi," kata MS sembari memeluk erat anak perempuan yang telah diasuhnya selama tujuh tahun.

Begitu juga LT. Ia tampak berat hati menyerahkan anak laki-laki kepada seorang perempuan dari Dinas Sosial. Tangannya seakan ingin terus memegang anak adopsinya. Berulang kali anak ia mencium anak adopsinya, dan memohon agar diizinkan memeluk anaknya untuk terakhir kali.

"Gak sanggup aku pisah sama anakku ini. Sinilah dulu, samaku. Mohonlah Buk, Pak jangan pisahkan aku dengan anakku. Biarlah kami yang merawat," ujarnya sambil terisak.

Muda Ijin histeris di Mapolsek Tanah Jawa setelah anak kandungnya diambil Dinas Sosial (tribun medan/dedy)
Muda Ijin histeris di Mapolsek Tanah Jawa setelah anak kandungnya diambil Dinas Sosial. (tribun medan/dedy) 

MIS, yang mengaku ayah kandung anak yang dilahirkan hasil hubungan tidak resmi dengan Lentina Panjaitan, histeris minta ampun dan berulang kali menyebut Tuhan. Beberapa kali kepalanya menengadah dan dan tangannya laiknya orang berdoa.

"Oh, Tuhan, apa salahku ini. Kenapa jadi begini aku. Itu anakku sendiri. Oh, Tuhan. Bukannya membeli, bukannya mengadopsi. Darah saya sendiri," kata pria berkaca mata tersebut.

Suasana haru tersebut membuat Afni dari Dinas Sosial hanya mampu menjelaskan prosedural hukum. Ia memastikan, anak-anak tersebut akan diasuh dan dijamin hidupnya selama di yayasan.

"Kami tahu ini sulit. Tapi inilah hukum. Ibu dan bapak bagaimana pun harus menyelasaikan dulu masalah ini. Anak-anak kami pastikan aman bersmaa kami," katanya.

Halaman
1234
Editor: fitriadi
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved