Karnaval HUT RI
VIDEO: Dikira Orang Papua, SDN 32 Mendo Barat Bawakan Pesan Alam
Sesampainya pasukan pawai SDN 32 Mendo Barat yang berkostum unik mendapat sorakan meriah dari penonton di garis finish Pawai Karnaval di Alun-alun Tam
Penulis: Ardhina Trisila Sakti | Editor: khamelia
Laporan wartawan Bangka Pos, Ardhina Trisila Sakti
BANGKAPOS.COM, BANGKA- Sesampainya pasukan pawai SDN 32 Mendo Barat yang berkostum unik mendapat sorakan meriah dari penonton di garis finish Pawai Karnaval di Alun-alun Taman Merdeka, Minggu (20/8).
SDN 32 Mendo Barat Kabupaten Bangka Induk terdiri dari 60 siswa memainkan alat-alat drumband yang diberi nama dengan Sukuloem.
Peralatan Drumband Sukuloem tampak sederhana dan tak seperti alat-alat drumband biasa karena berasal dari galon air dan botol plastik bekas minuman yang dihiasi dengan kertas krep. Adapula siswa yang membawa sapu dimainkan sesekali sebagai tongkat mayoret.
Komentator yang bertugas di alun-alun Taman Merdeka sempat menyangka pasukan drumband ini berasal dari Papua karena siswa laki-laki sekolah dasar ini tidak menggunakan sehelai baju.
Tubuh mereka menghitam diwarnai arang. Sementara celana mereka terbuat dari daun resam berwarna hijau.
"Panas, capek tapi senang," ujar Firman siswa kelas 6 SDN 32 Mendo Barat usai sampai di garis finish.
Tubuhnya yang berwana hitam karena arang mulai pudar tersapu keringat yang mengucur karena berjalan sejak pukul 09.00 WIB sejauh tujuh kilometer dari Kantor Gubernur Babel Jalan Air Utama menuju alun-alun Taman Merdeka.
Pembimbing sekaligus Guru kelas 6, Mariana (48) mengatakan ide melumuri tubuh siswa dengan arang berwarna hitam merupakan ide sekolah.
"Kalau kami cari yang bagus, di kota jauh lebih banyak yang bagus. Kalau kami cari yang ganteng atau cantik di kota juga banyak yang lebih ganteng dan cantik. Makanya kami cari sesuatu yang unik berasal dari alam," terang Mariana yang turut mewarnai wajahnya dengan arang hitam sebagai wujud kekompakan dengan siswanya.
Sebagai sekolah yang keberadaannya jauh dari kota, siswa SDN 32 Mendo Barat ini ingin membawakan pesan kepada penonton dan pejabat pemerintahan yang berada di panggung penghormatan untuk melestarikan kebudayaan terutama hutan.
"Kami merasa simpati dengan orang-orang di pedalaman karena hutannya dikuasai dengan cara dibabat. Penduduk asli tersingkir karena hutan ini dijual untuk penambang TI yang punya banyak duit dan lahan sawit," tambah Mariana penuh bersemangat.
Ia pun mengaku puas karena sepanjang perjalanan banyak penonton yang mengapresiasi keunikan drumband Sukuloem dengan mengacungkan jempol tangan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/suku-loem_20170820_155759.jpg)