Mahasiswa Tersesat dan Muncul Naga, Ini Pantangan dan Mitos yang Mewarnai Indahnya Bukit Maras

Cerita tentang naga, bulu perindu dan atok putih menghiasi keunikan dan keindahan Bukit Maras.

Mahasiswa Tersesat dan Muncul Naga, Ini Pantangan dan Mitos yang Mewarnai Indahnya Bukit Maras
ist
Ekspedisi Merah Putih Sahabat Alam ke Bukit Maras yang dilakukan BFS bersama BKSDA Sumsel selama dua hari, Sabtu (5/8/2017) hingga Minggu (6/8/2017). 

BANGKAPOS.COM, BANGKA - Kabar hilangnya mahasiswa STIE IBEK Pangkalpinang, Haidar (21) di Bukit Maras, Desa Berbura, Kecamatan Riausilip, Kabupaten Bangka sempat heboh, Senin (21/8/2017) lalu.

Dia sempat terpisah selama 13 jam dari empat rekan-rekannya.

Beruntung, dia ditemukan di Bukit Buih, hutan Tambun Tulang, Selasa (22/8/2017) pukul 01.00 WIB.

Bukit Maras memang memiliki kekhasan sendiri.

Mitos dan berbau mistis mewarnai cerita keindahan Bukit Maras tersebut.

Awalnya, Haidar dan teman-temannya berkemah di puncak bukit, Minggu (20/8/2017).

Saat mencari air pada Senin pagi, dia kebingungan mencari jalan kembali ke lokasi berkemah.

Baca: Mirip-mirip Genderuwo, Ini 5 Kisah Makhluk Halus yang Doyan Intimi Manusia

Kadus Berbura, Karnadi Haidar nyasar jauh hingga ke lereng bukit Buih (bukit sebelah bukit Maras).

Saat ditemukan, Haidar dalam kondisi baik dan sehat, lalu di bawa ke Dusun Buhir, sekitar jam 4 subuh mereka tiba di Kampung Buhir.

Proses pencairan Haidar, tak lepas dari bantuan unsur Linmas dan FKPM desa setempat dan warga Dusun Buhir, juru kunci Bukit Maras, Karni.

Karnadi dan rombongan naik ke Maras dan menuju ke lokasi yang di arahkan juru kunci, karena menerima kabar pendaki hilang, akibat kehilangan rute jalan saat mengambil air di bawah lokasi kemahnya di Puncak Maras.

Baca: Belum Diapa-apakan Suami, Pengantin Wanita Menjerit! Ini Insiden Hubungan Intim Sampai Kelamin Patah

Setelah diberikan arahan oleh Juru Kunci, Karnadi bersama rombongan langsung berangkat menuku lokasi sasaran yakni ke arah timur laut dari Bukit Maras.

Kawasan Bukit Maras yang memiliki sejumlah air terjun mulai ramai dikunjungi para pendaki.

Namun peristiwa tersesatnya pendaki baru kali ini terjadi.

Kasi Kesra Pemdes Berbura Samsuri mengatakan, Pemdes Berbura tidak memiliki hak untuk melarang atau menyuruh warga naik ke Maras atau mengunjungi air terjun.

Hutan Konservasi di Bukit Maras di Desa Berbura Kecamatan Riausilip.Pada 2015, hutan tersebut sempat terbakar hingga beberapa kali.
Hutan Konservasi di Bukit Maras di Desa Berbura Kecamatan Riausilip.Pada 2015, hutan tersebut sempat terbakar hingga beberapa kali. (Bangkapos.com/Riyadi)

Baca: Kepsek dan Dosen, Ini Deretan Wanita Terlanjur Malu Usai Kirim Foto Syur Salah Alamat

Mitos dan pantangan

Bukti Maras memang banyak misteri.

Cerita tentang naga, bulu perindu dan atok putih menghiasi keunikan dan keindahan Bukit Maras.

Namun, secara turun temurun ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat masuk ke lokasi Bukit Maras.

Meski secara alamiah belum dapat dibuktikan hubungannya, tetapi tidak ada salahnya memperhatikan pantangan berikut ini:

1. Perempuan yang sedang menstruasi disarankan tidak masuk ke lokasi air terjun atau mendaki bukit.

Kades Berbura Asmiati kepada bangkapos.com, Selasa (10/5/206) menyebutkan larangan itu sesuai aturan adat.

Menurut dia, perempuan yang sedang datang bulan, kondisi tubuhnya belum bersih dan dilarang masuk ke Bukit Maras.

Hanya saja, jika mendesak misal untuk keperluan penelitian dan studi, masih ada pengecualian.

2. Dilarang berbuat tak senonoh, berkata kotor dan mesum

Sebenarnya, larangan ini berlaku di tempat mana saja.

Hanya saja, Bukti Maras adalah kawasan yang dijaga kelestariannya sehingga tidak pantas dijadikan tempat berbuat mesum.

Larangan itu untuk  menjaga local wisdom (kelestarian lokal) di hutan tersebut.

3. Anak-muda yang naik, kuatkan niat untuk melihat alam, bukan menyalahgunakan kegiatannya untuk hal-hal negatif dan berbuat senonoh, mesum.

4. Tidak boleh membakar segala hewan berdarah, seperti ayam, di kawasan terlarang Maras.

5. Boleh membawa lauk ayam, tapi dengan syarat tulang-tulangnya dikumpulkan dan di bawa keluar daerah larangan.

6. Syarat utama kalau mau masuk, harus memakai isi resam baik dipakai untuk gelang atau kalung.

Kisah Naga

Bukit Maras sebagai puncak tertinggi di Pulau Bangka terkenal kental dengan hal-hal berbau mistis.

Bahkan kebakaran yang melanda kawasan tersebut yang terjadi pada OKtober tahun 2015 diselimuti kisah mistis.

"Ada warga yang melihat tiga naga keluar dari Maras sebelum kebakaran," kata Kadus Buhir Desa Berbura Karnadi.

"Di tempat kita ada juga warga yang mimpi melihat Maras terbelah dua dan mengeluarkan api," ungkap Karnadi.

Menurutnya, saat kebakaran melanda kawasan lereng bukit Maras hingga dekat permukiman warga Dusun Buhir, warga melihat sosok ular naga yang seakan-akan mengejar manusia.

"Naga itu seolah-olah mengejar manusia. Warga melihatnya jelas lengkap dengan mata dan kumisnya," ucapnya.

Bukit Maras di Desa Berbura Kecamatan Riausilip. Foto dari Dusun Bernai Desa Berbura, Selasa (22/8/2017).
Bukit Maras di Desa Berbura Kecamatan Riausilip. Foto dari Dusun Bernai Desa Berbura, Selasa (22/8/2017). (bangkapos/riyadi)

Atok Putih

Warga setempat menyebutnya bukit Pasir Putih lantaran sering melihat ada benda putih di bukit tersebut.

"Sering ada penampakan benda putih atau orang nyebutnya atok putih," ungkap salah seorang warga Buhir saat memantau kebakaran yang melanda Bukit Pasir Putih di tahun lalu.

Di Bukit Maras sendiri disebut-sebut ada benda ajaib bernama buluh perindu hingga hewan buas yang disebut cindai dan beragam mitos lainnya.

Baca: Wajah Seperti Ini Kesukaan Pria hingga 5 Bentuk Wajah yang Tak Kepikiran Pernah Ada di Bumi

Tips ke Bukit Maras

Jika Anda ingin mendaki ke puncak Bukit Maras di Desa Berberura Kecamatan Riausilip, gunakanlah jalur atau rute dari Dusun Buhir desa setempat.

Jalur Buhir-Puncak, dimulai dari depan lapangan bola Buhir, ke arah jalur pipa Pam, belok kanan untuk menuju puncak.

Ketika tiba di pos satu, pendaki bisa istirahat di bukit Semut atau Bukit Meruyan.

Jika pendakian dilanjutkan, akan melintasi Pos dua Tembikar, setelah itu baru puncak.

Jalur Buhir jalur paling aman, ikuti rute yang jalannya sudah licin, karena sudah lama dirintis dan jalur Buhir paling sering digunakan sebagai jalur pendakian.

Lama pendakian sampai ke puncak, sekitar 3-4 jam.

Kalau lewat jalur pendakian dari Rambang, itu tidak bisa dilakukan, karena jalur tersebut sudah ditutup.

Penulis: Alza Munzi
Editor: Alza Munzi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved