Kesan Mahasiswa KKN di Bangka, Setiap Tamu yang Datang Pasti Diajak Makan

Keramahtamahan dan kekeluargaan dari masyarakat Bangka dirasakan mahasiswa KKN Bersama dari 23 perguruan tinggi negeri (PTN) se Indonesia

Kesan Mahasiswa KKN di Bangka, Setiap Tamu yang Datang Pasti Diajak Makan
ist
Rektor UBB Dr Ir Muh Yusuf MSi (tengah, bertopi) dan rombongan, berpose gaya optimistik (mengepalkan lengan) bersama para mahasiswa KKN Bersama BKS-PTN Indonesia bagian Barat di Desa Payabenua, Mendo Barat, Sabtu (26/08/2017) 

“Selain kami sering  diundang ke rumah warga,  warga --  mulai dari  anak-anak kecil hingga orang dewasa --  semuanya hafal satu-persatu  nama-nama  kami, mahasiswa KKN Bersama ini.  Saya salut sekali!,” ujar Della.

Di Desa Cengkong Abang,  Rektor UBB Dr Ir Muh Yusuf bersilaturahmi dengan mahasiswa KKN Bersama yang sudah  berkumpul di sebuah rumah warga.  Mereka didampingi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Wahri Sunanda dan Mardiah.

Selain bertanya dengan program kerja yang telah dilaksanakan, Rektor Muh Yusuf  -- seperti hanya di Desa Payabenua dan Rukam --  juga menanyakan kesan dan pesan mahasiswa KKN Bersama di Desa Cengkong Abang.

Muhammad Johari, mahasiswa Universitas Tanjungpura, Kalimantan Tengah (Kalteng), mengemukakan bahwa  budaya  yang ada di Pulau Bangka, khususnya Desa Rukam, sama dengan budaya di Kalteng.

“Tapi di sini (Desa Cengkong Abang) jauh lebih kental!,” ujar Muhammad.

Tidak jauh beda dengan Muhammad, Rahmawati mahasiswa FKIP Universitas Palangkaraya, Kalteng, pun menilai budaya di Bangka tak beda dengan Kalteng.

“Kedua daerah sama budayanya.  Cuma kalau di sini (Desa Cengkong Abang) pada pukula sepuluh malam semua telah tidur.  Sementara di Palangkaraya,  pada waktu yang sama  masih ada warga  yang berada di luar rumah,” ujar  Rahmawati.

Beda dengan Angga, mahasiswa Universitas Tirtayasa, Banten.  Karena tinggal di Tanggerang yang dikenal sebagai daerah industri, ia pun  terobsesi melihat sungai setiba di Pulau Bangka.

“Saya terhipnotis melihat sungai sebagaimana yang ada di Banten Selatan,” kata Angga.

Maka setiba di Desa Cengkong Abang ia pun  mencaari  sungai dimaksud.  Setelah bertanya  kepada warga, warga pun menunjukan sebuah lokasi yang cukup jauh.

“Jaraknya lebih-kurang lima kilometer.  Tapi setiba di sana, barulah saya sadar  bahwa  yang dimaksud warga itu adalah ‘kolong’ bekas penambangan timah,” ujarnya sambil tersenyum. (*/doi)

Penulis: Dody
Editor: khamelia
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved