Jumat, 1 Mei 2026

Astaga, Istri Menjerit Usai Berhubungan Intim Setelah 6 Bulan Tak Bertemu, Ternyata Ada yang Pecah

Rasa sakit yang ia rasakan begitu hebat sampai akhirnya dia dibawa ke rumah sakit.

Tayang:
Editor: Alza Munzi
consciouslifenews.com
Ilustrasi (tidak ada hubungan dengan isi berita). 

Laporan reporter Grid.ID, Hyashinta Amadeus Onen Pratiwi

BANGKAPOS.COM - Seorang perempuan di China ini mengalami pengalaman yang mengerikan.

Nyawanya hampir saja melayang jika ia tidak segera mendapat penanganan.

Ia adalah Xiao Qing, perempuan 26 tahun yang telah menikah.

Ia mulai merasakan sakit perut setelah berhubungan badan dengan suaminya.

Dilansir Next Shark, keduanya telah menjalani LDR selama 6 bulan karena bekerja sampai akhirnya bertemu kembali tanggal 19 Agustus 2017.

Rasa sakit yang ia rasakan begitu hebat sampai akhirnya dia dibawa ke rumah sakit.

Pemeriksaan menunjukkan bahwa ada kista ovarium berdiameter 3 cm di dalam perutnya.

Kista tersebut telah pecah dan mengakibatnya hilangnya 40% darahnya atau sekitar 1.500 ml.

Baca: Berzina di Tempat Umum dan Miras, Ini 4 Kelakuan yang Kerap Dilakoni Manusia di Akhir Zaman

Untungnya, perempuan ini sampai rumah sakit tepat pada waktunya.

Dia menjalani operasi untuk menghentikan pendarahan dan saat ini telah pulih.

Kista ovarium cukup umum terjadi terutama bagi wanita yang masih menstruasi.

Usai berhubungan intim dengan suaminya, wanita merasakan rasa sakit di alat vitalnya.
Usai berhubungan intim dengan suaminya, wanita merasakan rasa sakit di alat vitalnya. (Nextshark)

Menurut WEBMD, kista awalnya tidak menimbulkan rasa sakit dan tidak berbahaya.

Ada beberapa yang bahkan kistanya hilang dengan sendirinya.

Meski demikian, untuk kista yang berukuran besar akibatnya bisa fatal karena bisa pecah.

Selain itu, kondisi ini juga bisa mengancam jiwa seperti munculnya kanker.

Baca: Istri Hajar dan Telanjangi Selingkuhan Suami di Jalan Ramai, Tak Diduga Begini Respon Warga

Banyak perempuan mungkin memiliki kista oravium tanpa menyadarinya.

Penyebabnya bisa beraneka ragam seperti hubungan badan atau aktivitas berat lainnya.

Jika kamu mengalami nyeri perut tiba-tiba, bengkak, dan kembung di daerah perut, segeralah ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Bisa jadi kista ovarium pecah dan berakibat fatal. 

Tentang kista ovarium

Dikutip dari alodokter, kista ovarium adalah kantong berisi cairan yang terbentuk di dalam ovarium.

Tiap wanita memiliki dua indung telur (ovarium), satu di bagian kanan dan satu lagi di kiri rahim.

Ovarium yang berukuran sebesar biji kenari ini merupakan bagian dari sistem reproduksi wanita.

Organ ini berfungsi untuk menghasilkan sel telur tiap bulan (mulai dari masa pubertas hingga menopause) serta memproduksi hormon estrogen dan progesteron.

Fungsi ovarium terkadang dapat mengalami gangguan dan kista termasuk jenis gangguan yang sering terjadi.

Kista ovarium dibagi ke dalam dua jenis utama, salah satunya adalah kista fungsional.

Kista fungsional muncul sebagai bagian dari siklus menstruasi.

Baca: Pak Kapolres, Ayah Jenderal Tito Karnavian Juga Seorang Wartawan yang Dirikan Banyak Koran

Kista yang tergolong umum terjadi ini tidak berbahaya dan dapat hilang dengan sendirinya.

Jenis kista yang kedua adalah kista patologis.

Berbeda dengan kista fungsional, kista patologis mengandung sel abnormal.

Pada sebagian kecil kasusnya, sel abnormal tersebut bersifat kanker.

Gejala kista ovarium

Cukup banyak wanita yang pernah memiliki kista ovarium.

Namun, kista umumnya tidak menyebabkan gejala dan dapat hilang sendiri dalam beberapa bulan.

Meskipun demikian, kista yang berukuran besar atau pecah berisiko mengakibatkan gejala serius sehingga perlu ditangani melalui operasi.

Gejala-gejala kista ovarium yang perlu diwaspadai antara lain perdarahan yang lebih banyak daripada biasanya pada saat menstruasi.

Siklus menstruasi tidak teratur, sulit hamil, rasa nyeri pada tulang panggul, nyeri saat berhubungan seksual, serta kesulitan buang air besar atau buang air kecil.

Jika kista ovarium menyebabkan gejala, Anda kemungkinan akan dirujuk ke dokter spesialis ginekologi untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut (misalnya pemeriksaan organ intim, USG, atau tes darah) guna memastikan diagnosis.

Sumber: Grid.ID
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved