VIDEO: BPOM Sidak ke Pasar Kite Yemukan Terasi Mengandung Zat Pewarna

Dari 23 sampel bahan pangan yang diambil yakni terasi, ikan asin, ikan segar, mie basah, tahu dan lainnya terdapat satu terasi

Laporan Wartawan Bangka Pos Nurhayati

BANGKAPOS.COM,BANGKA -- Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Sungailiat, Dinas Kesehatan Kabupaten Bangka, Satpol PP dan Polsek Sungailiat melakukan razia terhadap bahan pangan diduga mengandung zat berbahaya, Kamis (14/9/2017) di Pasar Kite Sungailiat.

Dari 23 sampel bahan pangan yang diambil yakni terasi, ikan asin, ikan segar, mie basah, tahu dan lainnya terdapat satu terasi dari 10 sampel yang menggunakan bahan pewarna.

Namun pihak BPOM Babel belum bisa mempredikasi apakah bahan pewarna yang digunakan berbahaya atau tidak. Untuk itu pihak BPOM akan meneliti lebih lanjut guna memastikan bahan yang digunakan berbahaya atau tidak.

"Hari ini kami dari BPOM provinsi bersama UPT Pasar dan dinas kesehatan, Pol PP dan dari polsek melaku sampling di Pasar Kite totalnya ada 23 sampel terdiri dari terasi, mie dan ikan. Kita memang lebih fokus banyak sampel di terasi karena dari pemeriksaan sebelumnya ada yang dicurigai menggunakan pewarna. Dari 23 sampel yang kita uji hari ini ada satu sampel terasi yang diduga menggunakan pewarna tetapi untuk jenis pewarnanya apa, apakah pewarna yang dilarang atau tidak itu akan kami lakukan uji lagi di laboratorium di BPOM," jelas Diah, selaku Staf Pemeriksaan Penyelidikan Sertifikasi dan Layanan Konsumen BPOM Babel kepada bangkapos.com, Kamis (14/9/2017) di UPT Pasar Sungailiat.

Dari tes yang mereka lakukan baru menggunakan test kit untuk mendeteksi awal penggunaan bahan-bahan yang diduga berbahaya sehingga satu sampel terasi yang diduga menggunakan zat pewarna berbahaya atau tidak dan jenisnya apa akan diuji kembali oleh pihak BPOM.

Untuk sampel lain seperti mie, ikan asin, ikan segar dan tahu, Diah memastikan aman dikonsumsi karena tidak mengandung zat berbahaya seperti boraks maupun formalin.

Pihaknya juga menyampaikan kepada pedagang untuk membeli terasi yang aman seperti dari warnanya tidak berwarna merah mencolok, dari bau wajar dan pewarnaan rata.

Disinggung pihak UPT Pasar Sungailiat sudah beberapa kali menemukan terasi mengandung zat pewarna Rhodamin B yang merupakan pewarna pakaian, menurut Diah, BPOM berkoordinasi dengan UPT Pasar untuk menelusuri pemasok terasi tersebutm
Pasalnya para pedagang banyak yang menera titipan dan beli dari pedagang lain.

"Jadi ke pedagang sendiri sifatnya pembinaan dimana menerima barang yang dari penampakan aman, kemudian kalau nitip bisa dicatat informasinya nama dan nomor telpon dari yang nitip supaya untuk penelusurannya lebih enak," saran Diah.

Diakuinya sejauh ini dari pihak produsen yang memproduksi terasi tersebut belum ada yang terjaring karena pihaknya juga kesulitan dimana untuk terasi ini tidak berlabel jadi perlu penelusuran lagi untuk produsennya dari mana.

"Beda kalau ada label misalnya sudah ada no PRT atau ada namanya lebih mudah. Ini karena terasi sifatnya curah dan dikemasan tidak ada label kita masih menelusuri lagi untuk bisa dapat pemasok. Informasi sudah ada tetapi belum bisa sampai ke produsennya," ungkap Diah.

Untuk penyelidikan pihaknya tetap berkoordinasi dengan UPT Pasar dan Petugas Polsek Sungailiat. Dikatakannya produsen terasi ini juga ada yang dari luar daerah Bangka. "Karena terasinya yang tidak berlabel kita telusuri lagi dari mana," kata Diah.

Sedangkan ciri terasi yang diduga mengandung pewarna tekstil Rhodamin B dari segi warna lebih merah mencolok, ada titik-titik warna yang tidak merata, namun untuk testurnya lembut atau keras tidak bisa dideteksi karena tergantung pengeringan. Menurutnya yang bisa dilihat dari warna.

"Saat kita sampling sudah banyak perubahan dari pertama kali kita lakukan pengujian dulu banyak yang dicurigai dari warna untuk sekarang yang dijual memang dari penampakan tidak banyak yang mencurigakan hanya tadinyang satu sampel terasi," jelas Diah.

Lebih lanjut mengenai dampak penggunaan zat pewarna Rhodamin B, dijelaskannys tidak dapat dicerna oleh tubuh mengakumulasi dan efeknya tidak dalam waktu dekat tetapi dalam waktu panjang, misalnya di atas lima tahun pemakaian bisa menyebabkan kanker.

"Jadi yang kita uji tadi tidak hanya rhodamin ada formalin, borak, pewarna yang lain juga metanil yellow. Parameter yang lain tidak ada yang mencurigakan. Kita agak fokus di Pasar Kite karena tahun ini dijadikan program pasar aman dari bahan berbahaya. Jadi kita beberapa kali melakukan pengujian disini," ungkap Diah.

Penulis: nurhayati
Editor: edwardi
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved