#RipHuda Mendunia, Paul Pogba Turut Berbelasungkawa

Melalui akun twitternya, Pogba meretweet postingan Persela Lamongan. Kejadian memilukan ini juga menjadi perhatian

Penulis: Teddy Malaka | Editor: Teddy Malaka
Instagram/perselafc
Kiper Persela Lamongan, Choirul Huda 

BANGKAPOS.COM, LAMONGAN -- Meninggalnya Choirul Huda tak hanya duka bagi sepakbola nasional, tetapi juga sepakbola dunia.

Ucapan belasungkawa tak hanya dari dalam negeri tetapi luar negeri. Bahkan sejumlah pemain dan klub membuat pernyataan resmi dengan tagar #ripchoirulhuda #RipHuda.

Satu di antara pemain profesional yang menguncapkan belasungkawa adalah Paul Pogba.

Melalui akun twitternya, Pogba meretweet postingan Persela Lamongan.

Kejadian memilukan ini juga menjadi perhatian media internasional.

Sejumlah media bahkan memasang berita ini menjadi headline.

Huda meninggal karena benturan keras yang dialaminya di tengah pertandingan, saat membela timnya di kompetisi Liga 1.

Huda sempat dilarikan ke rumah sakit.

Tapi nyawanya tak tertolong. Bagaimana peristiwa itu bisa terjadi?

Berikut pernyataan resmi Dokter Yudistiro Andri Nugroho, Spesialis Anastesi (Kepala unit Instalasi Gawat Darurat RSUD dr Soegiri Lamongan) terkait meninggalnya Choirul Huda penjaga gawang Persela Lamongan yang diunggah laman resmi Persela Lamongan.

"Choirul Huda mengalami trauma benturan dengan sesama pemain, sehingga terjadi apa yang kita sebut henti nafas dan henti jantung. Oleh teman-teman medis di Stadion sudah dilakukan penanganan pembebasan jalan nafas dengan bantuan nafas. Kemudian dirujuk ke UGD RSUD dr Soegiri. Di ambulance juga ditangani secara medis untuk bantuan nafas maupun untuk penanganan henti jantung. Sesampainya di UGD segera ditangani. Kita lakukan pemasangan alat bantu nafas yang sifatnya permanen. Kita lakukan inkubasi dengan memasang alat semacam pipa nafas. Itu yang menjamin oksigen bisa 100 persen masuk ke paru-paru. Dengan itu kita harapkan kita melakukan pompa otak sama jantung. Sempat ada respon dari Choirul Huda dengan adanya gambaran kulit memerah, tetapi kondisnya tetap semakin menurun. Pompa jantung dan otak itu dilakukan selama 1 jam tidak ada respon. Tidak ada reflek tanda-tanda kehidupan normal. Kemudian kita menyatakan meninggal pada pukul 16.45. Kita sudah mati-matian untuk mengembalikan fungsi vital tubuh Choirul Huda"

"Sesuai analisa awal benturan ada di dada dan rahang bawah. Ada kemungkinan trauma dada, trauma kepala dan trauma leher. Di dalam tulang leher itu ada sumsum tulang yang menghubungkan batang otak. Di batang otak itu ada pusat-pusat semua organ vital, pusat denyut jantung dan nafas. Mungkin itu yang menyebabkan Choirul Huda henti jantung dan henti nafas. Itu analisa awal kami, karena tim kami gak sempat melakukan scaning, karena mas Huda tidak layak transport dengan kondisi kritis seperti itu. Kita tidak bisa mengkondisikan untuk dibawa ke Radiologi. Kita lebih menangani kondisi awal"

Berikut 5 fakta soal peristiwa tersebut :

1. Terbentur Teman Sendiri

Huda mengalami benturan hebat saat beraksi menyelamatkan gawang dari ancaman lawan.

Dia mengamankan bola yang menuju ke gawangnya.

Tapi kemudian dia berbenturan dengan teman satu timnya sendiri, Ramon Rodrigues, yang saat itu juga berlari ke arah gawang. 

Kepala Huda berbentur kaki Ramon.

2. Sempat Duduk

Setelah berbenturan, Huda bukannya langsung tak sadarkan diri.

Dia bahkan sempat duduk beberapa saat.

Huda sempat memegangi dadanya.

 Setelah itu Huda ambruk, dan petugas medis menuju lapangan.

3. Tidak Langsung ke Rumah Sakit

Tim medis yang menangani Huda menyebut, Huda ternyata tak langsung dibawa ke rumah sakit setelah insiden tabrakan itu.

Ia baru dibawa ke RS, setelah tak sadarkan diri.

"Tadi masih sadarkan diri dan mengeluh sakit dibagian dada, terus kemudian tidak sadar," ujar salah satu tim medis yang membantu evakuasi ke rumah sakit.

4. Meninggal Jelang Azan Maghrib

Pihak Rumah Sakit Dr Soegiri Lamongan menyatakan, Choirul Huda dipastikan meninggal pada pukul 17.15 WIB, Minggu (15/10/2017) sore.

Huda meninggal usai menjalani perawatan, setelah kondisinya semakin menurun.

Ia memasuki masa kritis, hingga akhirnya meninggal dunia.

"Sesampainya di rumah sakit masih ada. Lalu langsung kami berikan perawatan, lalu kritis dan meninggal tepat pukul 17.15 WIB," kata Zaki Mubarok, dokter yang menangani Choirul Huda, Minggu (15/10/2017) malam.

5. Kepala dan Leher

Sempat beredar kabar, penyebab Huda meninggal karena benturan di dada.

Padahal, bukan itu yang sebenarnya.

Berdasarkan analisa dokter, penyebab Choirul Huda meninggal adalah benturan di kepala dan leher, bukan dada sebelah kiri yang disangka banyak pihak.

"Kalau dari pemeriksaan ini tadi ada benturan di kepala dan leher," jelasnya. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved