Salah Satunya Harus Ada Petir, Ini Penyebab Kulat Pelawan Harganya Mahal

Kalau di bulan tiga dan sembilan itu ada panas seminggu, setelah itu hujan disertai petir, nah itu lah waktu kulat

Salah Satunya Harus Ada Petir, Ini Penyebab Kulat Pelawan Harganya Mahal
Bangkapos/Riyadi
Kulat (jamur) pelawan yang sudah dikeringkan. 

Laporan Wartawan Bangka Pos,  Riyadi

BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Meskipun kulat (jamur) pelawan kini susah dicari, tapi kulat yang tumbuh setahun dua kali ini, tetap dibeli warga sekalipun harganya mahal.
Kulat pelawan susah dicari, bukan tanpa sebab.

Secara umum penyebabnya adalah menipisnya hutan yang di dalamnya terdapat vegetasi dan tegakan pohon pelawan.

Pencari Kulat Pelawan Karmilah warga Dusun Tanjung Batu Desa Lumut Kecamatan Belinyu, menyebutkan kenapa harga kulat pelawan sekarang mencapai Rp 1,3 juta per kilo di tingkat penjemur.

Karmilah warga Dusun Tanjung Batu Desa Lumut Kecamatan Belinyu, siap mengemas kulat pelawan yang sudah kering, untuk diambil pemesannya. Foto Jumat (20/10)
Karmilah warga Dusun Tanjung Batu Desa Lumut Kecamatan Belinyu, siap mengemas kulat pelawan yang sudah kering, untuk diambil pemesannya. Foto Jumat (20/10) (Bangkapos/Riyadi)

Penyebabnya karena barang sedikit, hutan pelawan juga sudah berkurang.

Tapi kalau dulu, ketika hutan pelawan masih utuh, tidak susah mencarinya.
Kulat pelawan tumbuh tidak disepanjang tahun, tapi musiman, yakni di bulan tiga dan sembilan.

"Kalau di bulan tiga dan sembilan itu ada panas seminggu, setelah itu hujan disertai petir, nah itu lah waktu kulat pelawan tumbuh, tapi kulat pelawan sekarang susah dicari, karena hutan sudah berkurang," kisah Karmilah kepada bangkapos.com Jumat (20/10) di kediamannya.

Warga Kecamatan Belinyu Sandra menyebutkan, bisnis kulat pelawan cukup menjanjikan, tapi sekarang barang yang satu itu, susah dicari.

"Kiranya cari kulat pelawan malah banyak ngasil duit, tapi mau cari dimana sekarang, sudah payah, hutan pelawan habis di babat untuk kebun petani, kebun sawit perusahaan, habislah hutan pelawan, ada sih ada hutannya, tapi hanya secampul (secuil)," ujar Sandra.

Pencari kulat pelawan Asan warga Kecamatan Kelapa menyebutkan hal sama. Di daerah ini dulu, sangat mudah cari kulat pelawan, karena hutannya masih dipenuhi pohon pelawan.

Tapi sekarang hutan yang penuh pelawannya, sudah banyak habis jadi sawah, kebun hingga areal perkebunan sawit.

"Ku terus terang dak mencari kulat pelawan lagi sekarang, karena hutannya sudah nggak ada lagi, ku tahu lah, harganya sekarang sejuta lebih, tapi sudah lah, barang sudah payah," kata Asan.(*)

Penulis: riyadi
Editor: Iwan Satriawan
Sumber: bangkapos.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved